Senin, 11 Juni 2012

                                  Agenda Kegiatan sebagai
                  NARASUMBER/INSTRUKTUR TAHUN 2012

NO
NARASUMBER/INSTRUTUR KEGIATAN
TANGGAL
1
Pelatihan Elektronik Learning (E-Learning) bagi Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
4-5 Juli 2012

2
Diskusi Terbuka Kewirausahaan mahasiswa dan pengurus BEM UIN Sultan syarif Kasim Riau
31 Mei 2012

3
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru 2012
21-29 Mei 2012
4
Pelatihan menjadi wirausahawan bagi mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Riau
21-22 Mei 2012













                        Agenda Kegiatan sebagai
             NARASUMBER/INSTRUKTUR TAHUN 2011

NO
NARASUMBER/INSTRUTUR KEGIATAN
TANGGAL
1
Pelatihan Evaluasi pembelajaran bagi Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
26-29 Mei 2011

2
Pelatihan Desain pembelajaran bagi Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
20-21 Mei 2011

3
Pelatihan Menulis Buku Daras bagi Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
13-15 Juni 2011

4
Pelatihan Meodologi Penelitian bagi Dosen Perguruan Tinggi Agama Islam wilayah Prov. Riau dan Kepri.
19-21 September 2011
5
Pelatihan Analisis Data Penelitian bagi mahasiswa UIN Suska Riau
22 Agustus 2011
6
Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan bagi Guru MTs dan Madrasah Aliyah KKM kabupaten Kampar di Bahrul Ulum
18 Juni 2011

7
Pembelajaran berbasis WEB bagi Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
22-24 Juni 2011

8
Pembekalan Mahasiswa PPL Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau
12 September 2011
9
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru 2011
2-Nop s/d 9 Des 2011




Sabtu, 09 Juni 2012

MENJADI WIRAUSAHAWAN
Disajikan dalam pelatihan kewirausahaan:
1. Mahasiswa UIN SUSKA RIAU (diikuti oleh 8 Fakultas yang ditaja oleh LPM) 21-22 Mei 2012
2. Pengurus BEM UIN Sultan Syarif Kasim Riau Tanggal: 31 Mei 2012


















Selasa, 23 Agustus 2011

D I S K U S I

BAGAIMANA PENDAPAT ANDA DENGAN PROBLEMA BERIKUT?
1. Efektifitas Pembelajaran Konvensional VS Pembelajaran Kekinian.
2. Hukuman dalam proses pembelajaran.
3. Bentuk atau konsep Integrasi ilmu-ilmu sain dengan ke-Islaman.

H I K M A H

1. Bahaya teman (hati-hati terhadap teman dekat-MU karena suatu ketika dapat menjadi musuhmu)
2. Memberi hakikatnya tidak berkurang, tapi akan bertambah. (utah tapi utuh)
3. Bisnis yang jujurlah yang akan memberi keuntungan. Sebaliknya bisnis yang tidak jujur akan menjadi sumber kerugian.


Senin, 22 Agustus 2011

KISAH HIDUPKU

Kisah hidup ini ditulis untuk menjadi motivator adik-adik Pelajar dan Mahasiswa. Hidup sukses dan berhasil tidak harus berasal dari keluarga mampu dan modal besar, tapi dimulai dari sebuah mimpi, harapan dan keyakinan bahwa kita bisa. Namun jangan lupa campur tangan Allah SWT. juga akan  turut menentukan...

H A R T O N O

A. MASA KECIL

1. Proses kelahiranku dan hampir terenggutnya nyawaku
Lahir di desa Sepotong kecamatan Bukit Batu kabupaten Bengkalis Riau tanggal 1 Maret 1965, sebuah desa kecil dipinggir jalan antara Siak Sri Indrapura dengan Sungai Pakning.
Proses kelahiranku tidaklah mudah, karena aku dilahirkan pada saat-saat Ibuku sedang sakit kritis. Menurut cerita ayahku penanganan yang dilakukan dukun kampung saat itu tidak sebagaimana mestinya, karena asumsi sang dukun Ibuku sedang diganggu mahkluk halus. Selama ibuku sakit lebih kurang satu bulan aku tidak disusui Ibuku,  aku disusui oleh kerabatku yang menjadi Ibu susuanku dan sudah ku anggap sebagai Ibu kandungku. Kedua ibu kandungku saat ini sudah tiada, semoga mereka mendapat tempat yang layak disisinya. amiiin.
Usia 7 bulan aku dibawa ke Sungai Apit oleh orang tuaku berbelanja untuk keperluan mengadakan acara mitoni (acara adat orang jawa bila anak sudah usia 7 bulan). Transportasi dari Sepotong ke Sungai Apit  menggunakan kapal. Menurut ayahku saat manaiki kapal sudah ada tanda-tanda kapal kelebihan muatan. Ayahku yang sudah punya firasat kurang baik segera mengambil tempat duduk di ujung kapal agar mudah menyelamatkan diri jika ada musibah atau kapal tenggelam, untuk mejaga kemungkinan terburuk ayahku lalu mengambil aku dari gendongan ibuku. Setelah aku diserahkan pada Ayah dan kapal sudah merangkak meninggalkan dermaga, tiba-tiba kapal tidak terkendali miring ke sebelah kanan, seluruh penumpang panik dan berlompatan ke sungai menyelematkan diri. Sementara air terus masuk ke dalam kapal, Saat air sudah memasuki kapal dan mulai tenggelam, ayahku langsung melompat ke sungai menyelamatkan ku. Alhamdulillah ayahku yang memang bisa berenang berhasil sampai di dermaga, dan aku diserahkan pada orang-orang yang ada di dermaga dari bawah dermaga. Setelah aku diserahkan ke orang-orang di atas dermaga, lalu Ayahku langsung mencari Ibuku, setelah kesana kemari akhirnya ayahku berhasil menemukan Ibuku, dengan susah payah ayahku membawa Ibuku ke pinggir sungai, maklumlah Ibuku memang kurang pandai berenang. Perjuangan panjang ayahku berenang membawa Ibu akhirnya sampai di dermaga.  Peristiwa itu meninggalkan trauma dan kesedihan yang mendalam, terutama mereka yang kehilangan keluarga. Peristiwa itu juga banyak meninggalkan cerita, antara lain rumor yang mengatakan ada anak bayi yang luar biasa karena tidak tenggelam di atas air. Menurut ayahku sesungguhnya itu adalah kisah diriku yang diberikan pada orang yang ada di atas dermaga sementara ayahku tetap berada di air, namun kisah itu sudah dimanipulasi. Orang-orang bilang aku ini punya nyawa sambungan....
Peristiwa kedua yang hampir merenggut jiwaku adalah saat usia 3 tahun... Waktu itu sedang banjir di rumahku dan sekitar tetanggaku. Sebagai seorang anak, banjir adalah sesuatu yang menyenangkan karena bisa bermain air, semua hal dipandang dari sudut permainan. Saat itu aku dan temanku main kuda-kudaan lari-lari berkeliling kesana kemari dengan senang hati. Kondisi banjir tidak lagi ada perbedaan mana dataran dan mana kolam. Aku bermain kuda-kudaan dengan temanku beriring-iringan, aku sebelah kanan dan temanku sebelah kiri. Rupanya jalan yang aku lewati adalah kolam, sehingga begitu sampai di kolam aku tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Untung temenku (usianya lebih kurang 3 tahun juga) menyadari bahwa aku dalam keadaan berbahaya. Lalu dia memanggil-manggil ayahnya sambil berteriak-teriak bahwa aku masuk kolam. Jika sedikit saja terlambat maka habislah sudah kehidupan duniaku. Akhirnya aku dapat diselamatkan, isi perutku sudah penuh dengan air. Konon kabarnya saat itu aku sudah tidak sadarkan diri lagi, orang-rang bertangisan karena aku belum siuman juga. Ternyata Allah masih memberikan aku umur panjang, akhirnya aku siuman. Alhamdulillah aku selamat. Memang kalau belum saatnya tiba ada saja jalan untuk tetap hidup.
Peristiwa ini semakin memperkuat opini orang kampung waktu itu bahwa aku ini adalah punya nyawa sambungan. Sehingga kalau ketemu dengan orang tua-tua kampung selalu bilang aku ini punya nyawa sambungan.

2. Hidup ikut orang
Perjalan hidup masa kecilku tidaklah indah sebagaimana anak-anak seusiaku. Usia 8 tahun (kelas 2 SD) aku dititipkan pada orang lain oleh orang tua ku. Aku hidup dengan keluarganya bu Wiji yang punya anak satu, karena orang tua ku bekerja sebagai ketua rombongan kerja mencari kayu balak, sedangkan ibuku bekerja sebagai jurumasaknya. Kehidupanku terasa kering, aku sering sedih, bahkan tidak jarang kadang aku menangis mana kala rindu dengan orang tuaku, terlebih kalau sedang punya masalah. Waktu terasa lama berjalan, tiap hari berharap orang tua pulang. Saat itu tidak ada kebahagiaan yang aku harapkan kecuali saat orang tuaku pulang.
Setelah dari keluarga bu Wiji aku dipindahkan ke keluarganya pak Jais, tetangga depan rumahku. Aku berharap di tempat baru akan mendapatkan yang lebih baik. Ternyata harapan ku sirna. Aku merasa tidak mendapatkan perhatian, aku sering menyendiri, melamun, kehidupanku semakin kering dari kasih sayang dan perhatian. Aku benar-benar menderita secara batiniah. Hal ini terjadi karena pak Jais memiliki 3 orang anak yang butuh perhatian juga. Keluarga ini lebih banyak memperhatikan anak-anaknya dari pada diriku sendiri. Baginya memberiku makan sudah cukup, mereka tidak memahami bahwa yang aku butuhkan bukan hanya sekedar makan tapi lebih dari itu yaitu perhatian dan kasih sayang.
bersambung.........

B. PENDIDIKAN
1. Pendidikan Formal
Aku masuk SD Negeri di Parit 4 desa Sepotong tahun 1972. Beberapa bulan di kelas 1 SD pindah ke SD Negeri Tanjung Belit. Setelah menamatkan SD melanjutkan ke SMP Negeri Lubuk Muda tahun 1982. Selanjutnya masuk ke SMA Negeri Sei. Pakning Jurusan IPA.
Setelah tamat SMA tahun 1985 masuk ke IAIN Susqa ngambil jurusan Pendidikan Matematika (saat itu namanya tadris matematika) program Sarjana Muda selesai 1988. Kemudian melanjutkan Program S-1 jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Susqa selesai tahun 1990. Tahun 1996 kuliah program S-2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) program studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Tahun 2008 Melanjutkan ke Program S-3 di IAIN Imam Bonjol Padang mengambil Program Studi Pendidikan Islam.

2. Pendidikan Tambahan
Tahun 1997 Kuliah di STTKOM (Sekolah Tinggi Teknik Komputer) Yogyakarta, disamping itu belajar secara khusus dengan Prof. Sutrisno Hadi di Yogyakarta mendalami program SPS, dan program Analisis Data Penelitian dan Statistika dengan Komputer.

3.
Prestasi Akademik
Selama belajar di kelas 1 sampai kelas 4 SD aku tidak menunjukkan prestasi yang luar biasa. Hal ini karena belum fokus ke belajar dan sering tidak masuk sekolah karena mendampingi/ikut Bapak/Ayah pergi ke ladang jika musim ladang. Jarak rumah dan ladang cukup jauh, ditempuh dengan menggunakan sampan menyusuri sungai dayang, perjalanan memerlukan waktu berjam-jam. Kami harus menginap di ladang. Setelah selesai musim ladang barulah masuk sekolah lagi.  Waktu kenaikan kelas dari kelas 3 ke kelas 4 hanya naik percobaan karena tidak ikut ujian. Naik percobaan biasanya diberikan pada murid-murid yang kemampuannya rendah (bodoh). Kalau dalam ujicoba ternyata mampu mengikuti maka tetap di kelas 4, tapi kalau tak mampu diturunkan lagi ke kelas 3. Aku sebenarnya malu menyandang prediket naik percobaan, karena itu simbol murid bodoh.
Prestasi akademik baru  aku raih saat kelas 5 ditandai dengan juara 1 saat ujian catur wulan dan juara 1 saat naik ke kelas 6. Aku tidak lagi pergi ke ladang karena orang tuaku berubah profesi menjadi Kepala rombongan kerja kayu balak (kepercayaan toke china). Prestasi yang diperoleh dengan tiba-tiba ini menimbulkan kecemburuan di kalangan teman-temanku, maklumlah selama ini aku tidak pernah diperhitungkan dan tidak pernah menonjol apa lagi pernah naik percobaan, akibatnya di kalangan teman-teman aku disebut sebagai anak kesayangan wali kelas, seolah-olah juara yang aku peroleh karena sebagai anak kesayangan Ibu wali kelas. Hal ini memicu semangatku untuk membuktikan bahwa prestasi yang aku peroleh murni karena kemampuanku. Alhamdulillah di kelas 6 SD aku bisa membuktikan, dengan wali kelas yang berbeda aku tetap mendapat juara 1 sampai tamat. Sehingga aku merupakan tamatan terbaik di SD Negeri Tanjung Belit saat itu. Teman-temanku yang selalu mengejekku "anak kesayangan" tidak lagi berani mengejekku lagi.
Prestasi akademikku terus bertahan sampai SMP dan SMA, aku masuk dalam tiga besar, setiap kali ujian semester aku  selalu mendapat juara, kadang juara 1, kadang juara 2 dan kadang juara 3. Sainganku di SMP dan SMA selalu dari siswi putri.

4.
Kisah-kisah di SMA
Banyak kisah atau peristiwa yang terjadi saat SMA (aku ingin menulisnya dalam sebuah buku), salah satu diantaranya adalah berikut ini:
Jarak sekolah dengan rumahku sangat jauh lk. 18 Km aku tempuh dengan naik sepeda, kondisi jalan yang aku tempuh adalah jalan tanah liat, bila malam atau pagi hujan maka tanah jalan lengket ke sepeda sampai sepeda tidak bisa jalan karena rodanya dipenuhi tanah. Terpaksa aku harus berhenti dulu membersihkan roda yang sudah dipenuhi tanah, setelah bersih barulah jalan lagi, beberapa kilo kemudian roda sudah penuh dengan tanah lagi, berhenti lagi, bersihkan lagi,  demikianlah seterusnya sampai ke sekolah. Tiba di sekolah aku pasti terlambat, beberapa kali aku di panggil wakil kepala sekolah karena terlambat. Suatu ketika saat aku terlambat, aku masuk kelas, semua siswa memandangiku termasuk guru matematika yang sedang mengajar pagi itu, aku duduk di tempat duduk ku. Rupanya bu guru sudah selesai menjelaskan,  Di papan tulis aku lihat pokok bahasannya tentang matrik, lalu ada soal latihan, bu guru sedang menawarkan pada siswa, katanya "siapa yang bisa mengerjakan silahkan maju ke depan".... sudah beberapa kali di tawarkan tidak ada yang maju. Akhirnya aku tunjuk tangan "saya buk.." serentak semua teman-temanku ketawa, bu guru hanya tersenyum. Sungguh peristiwa yang tak terlupakan, aku masih ingat respon wajah kawan-kawan dan bu guru saat aku tunjuk tangan. Wajah ragu, heran, kagum, cemeeh.... menghiasi wajah-wajah mereka.  Logikanya aku tidak mungkin bisa mengerjakan karena tidak mengikuti penjelasannya. Malam itu hujan, maka waktu subuh yang biasanya aku gunakan untuk bekerja aku tidak bekerja menyadap karet lagi, maka waktu itu aku manfaatkan untuk belajar termasuk pokok bahasan matrik yang akan dipelajari pagi itu. Hujan malam itulah yang menyebabkan jalan rusak dan aku terlambat.
Akupun melangkah mantap menuju papan tulis mengerjakan latihan matematika, karena aku yakin aku bisa. Setelah latihan selesai aku kerjakan lalu dicermati bu guru dan dikoreksi ternyata hasilnya benar semua, aku mendapat pujian dan applaus dari teman-teman dan bu guru. Duuhh senangnya hati. Peristiwa ini membuat amej bahwa aku siswa pintar. Sesungguhnya aku tidaklah pintar, ada temanku yang lebih pintar, lebih hebat dariku, aku hanya rajin belajar berusaha dan terus berusaha kalau tak paham. Banyak temanku bertanya bagaimana cara aku belajar, aku ceritakan bahwa aku sekolah sambil kerja. Sebelum berangkat sekolah aku bekerja bangun jam 3 subuh, pulang sekolah kerja lagi sampai jam 17 sore. Rata-rata meraka tidak percaya.
Alhamdulillah akhir studiku di SMA aku juga merupakan tamatan terbaik saat itu.
bersambung ............

5.
Masuk Perguruan Tinggi Tidak Lulus
Keinginanku untuk melanjutkan kuliah sangat besar, keinginan itu didasari untuk mengubah nasib. Jalan untuk mengubah nasib adalah dengan melalui pendidikan. Aku tidak ingin nasibku sama seperti teman-temanku di kampung. Namun persoalannya adalah dana, aku tidak berasal dari keluarga mampu, sehingga wajar kalau orang tuaku tidak punya harapan besar aku melanjutkan kuliah. Tekatku untuk kuliah sudah sangat kuat sejak masuk SMA, aku harus bisa kuliah walaupun hanya satu tahun jadi mahasiswa. Aku harus bisa kuliah dan merasakan jadi mahasiswa. Pikiranku saat itu adalah  harus bisa kuliah kalau ingin mengubah nasibku, targetku saat itu tidak muluk-muluk hanya ingin merasakan jadi mahasiswa. Aku tidak menghayalkan jadi sarjana karena aku menyadari kemampuan ekonomi keluargaku. Persiapan untuk kuliah mulai kulakukan sejak kelas 1 SMA dengan cara menabung. Aku sekolah sambil kerja menyadap karet, jam 3 subuh bangun menyadap karet pulang jam 6, jam 6.30 pagi berangkat sekolah pakai sepeda. Maklumlah jarak rumahku dengan sekolah cukup jauh lebih kurang 18 Km. Pulang sekolah jam 13.00 sampai rumah lk. jam 14.00. Jam 15.00 aku kerja lagi sampai jam 17.00.  Begitulah seterusnya sampai aku tamat SMA.
Menjelang tamat SMA tabunganku sudah cukup untuk ikut tes masuk perguruan tinggi (saat itu namanya SIPENMARU=Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, sekarang namanya SMPTN) dan biaya hidup untuk beberapa bulan di Pekanbaru.
Sampai saatnya akupun berangkat ke Pekanbaru mendaftar SIPENMARU, begitu besarnya harapan untuk bisa kuliah aku mengambil 2 formulir untuk 2 jurusan yaitu IPA dan IPS, karena jurusan IPA saat itu bisa ngambil 2 jurusan dengan 2 kali tes. Jurusan pertama ngambil jurusan IPA dengan 2 pilihan yaitu pilihan 1 ngambil pendidikan matematika dan pilihan ke 2 ngambil Pendidikan Biologi. Sedangkan jurusan IPS ngambil pendidikan ekonomi dan pilihan ke 2 ngambil pendidikan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Setelah mengikuti tes aku yakin bisa lulus dari salah satu pilihan dari 4 pilihan yang sudah aku pilih. Setelah pengumuman keluar ternyata nomor tesku tidak tercantum dalam daftar peserta tes yang dinyatakan lulus. Aku tidak lulus, aku kecewa, aku sedih, aku mau menangis. Teman-temanku yang kemampuannya di bawahku ternyata lulus dengan pilihan jurusan yang sama dan pilihan yang sama. Aku mulai putus asa menyesali nasib. Namun saat itu aku berfikir tidak boleh menyerah, aku harus bisa kuliah. Selanjutnya aku pergi ke UIR (Universitas Islam Riau) menjajaki kemungkinan bisa kuliah disana, akhirnya aku putuskan kuliah di UIR setelah melihat program studi yang ada disana dan biaya kuliah yang sudah kuukur dengan kemampuanku, walaupun aku ragu dengan kemampuan finansialku.
Setelah pulang dari UIR malam itu makan bersama dengan Kang Hurmain, kami diskusi masalah melanjutkan kuliah, aku percaya dan yakin dengan pertimbangan-pertimbangan yang dia berikan, apalagi dia seorang Dosen yang tau seluk beluk Perguruan Tinggi. Akhirnya keinginanku masuk UIR kubatalkan dan kuputuskan masuk IAIN Susqo ngambil jurusan pendidikan matematika. Akhirnya jadilah aku sebagai seorang Mahasiswa IAIN Susqo Pekanbaru.

C. RIWAYAT PEKERJAAN

1. Sekolah sambil kerja
Sejak kelas 3 SD aku sudah bekerja menyadap karet membantu orang tua di Kampung. Beratnya pekerjaan yang aku rasakan menempa mentalku lebih tegar dalam menghadapi hidup. Kelas 4 SD disamping kerja menyadap karet aku juga jualan di Sekolah, antara lain jualan kacang rebus, krupuk pedas dll. Saat di SMP aku tetap bekerja menyadap karet sampai SMA.
Setelah kuliah kebiasaan bekerja tetap aku lakukan, apalagi dorongan kuliah juga sangat besar. Setelah kuliah di Semester I aku mencari peluang untuk bisa bekerja. Peluang pertama yang aku tangkap untuk bisa bekerja adalah menjadi guru ngaji pripat ke rumah-rumah.

2.
Menjadi guru ngaji dan les privat matematika
Alhamdulillah kemampuanku dibidang membaca al-Quran terasa manfaatnya. Sejak SD aku sudah dekat dengan masjid, bermain di masjid, mulai belajar ngaji di masjid sampai menjadi guru ngaji di masjid Istiqomah Tanjung Belit, dari SD sampai SMA aku menjadi guru ngaji di masjid tersebut. Aku merupakan murid ngaji yang terbaik di Taman Pendidikan Al-Quran itu.  Sejak kelas 4 SD aku sudah ikut MTQ tingkat anak-anak dan mendapat juara 1 tingkat RT/RW, demikian juga MTQ tingkat antar desa, selalu menjadi juara 1 sampai tingkat kecamatan. Tiap tahun aku selalu menjadi peserta tetap dalam MTQ sampai tingkat remaja. Aku juga pernah ikut MTQ antar Pertamina tingkat anak-anak mewakili Pertamina Sei. Pakning.
Setelah di Pekanbaru kemampuanku membaca al-Quran terus  kutingkatkan, aku bergabung di LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Riau yang dipandu oleh Ust. Masy'ari dan Ust. Ramli. Aku juga ikut mengisi acara pembinaan seni baca al-Qur'an di RRI setiap hari jum'at jam 16.00. Hal ini menjadi pintu masuk aku mengisi acara di RRI seperti acara berbalas pantun dan mengisi acara-acara yang ada pembacaan al-Quran, sehingga aku sering rekaman membaca al-Quran di RRI. Selama di Pekanbaru aku juga selalu mengikuti MTQ tingkat RT/RW sampai tingkat kecamatan dan kota madya.
Tidak kuduga, kemampuan baca al-quran telah menjadi peluang mendapatkan rezki untuk biaya kuliah. Disamping memberikan les baca al-quran aku juga memberi les matematika. Makin hari makin banyak permintaan masyarakat untuk menjadi guru les ngaji dan guru matematika tingkat SD sampai SMA. Alhamdulillah dari penghasilan menjadi guru les telah mencukupi biaya kuliah.
Disamping menjadi guru les pripat, aku juga mengajar di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah di Sail sebagai guru matematika.  Alhamdulillah Aku sudah bisa mandiri dari sisi kebutuhan keuangan bahkan melebihi dari kebutuhan biaya kuliah dan biaya hidup, aku sudah tidak minta kiriman orang tua lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah.
Bakat bisnisku mencari uang terus berkembang, mungkin bakat bisnisku merupakan keturunan dari orang tua, karena ibuku juga di kenal sebagai pebisnis dikampungku. Setelah aku punya modal dari hasil menabung, aku memodali usaha beberapa orang untuk berjualan dengan perjanjian bagi hasil, hasilnya lumayan. Mitraku dari waktu ke waktu terus bertambah, aku tinggal mengontrol. Begitulah sampai akhirnya aku menyelesaikan pendidikan S1. Selesai pendidikan S-1 aku ikut tes calon Dosen di fakultas Tarbiyah IAIN Susqo, aku tidak begitu berharap untuk bisa lulus, tapi targetku hanya ingin cari pengalaman rasanya di tes jadi Dosen, seteleh mengikuti tes potensi akademik, tes kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris serta psiko tes, alhamdulillah aku dinyatakan lulus sebagai calon Dosen di IAIN Susqo Pekanbaru. Setelah 2 tahun akhirnya aku diangkat sebagai tenaga pengajar, 2 tahun kemudian barulah menjadi tenaga edukatif (Dosen sepenuhnya) dan mendapat tunjangan Dosen.

3.
Kuliah Sambil Bisnis
Aku diangkat sebagai Dosen dengan matakuliah keahlian STATISTIK PENDIDIKAN, aku ingin jadi Dosen yang profesional, untuk mendalami statistik tidak bisa melanjutkan S-2 ke IAIN karena di IAIN tidak ada program studi yang serumpun dengan Statistik Pendidikan, maka harus mendalami keilmuan tersebut ke Perguruan Tinggi Umum. Pilihan melanjutkan S-2 adalah ke UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) dengan berbagai macam pertimbangan. Namun ternyata hal itu tidak mudah, karena tidak mendapat Izin Rektor, dalam aturan kuliah lintas departemen yang berhak memberi izin adalah kementrian agama pusat katanya. Proses itu aku lalui dengan mengurus izin kuliah lintas departemen ke departemen agama. Alahamdulillah akhirnya izin itu aku peroleh. Setelah ikut tes alhamdulillah dinyatakan lulus pada program studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di UNY Yogyakarta. Kuliah S-2 alhamdulillah memperoleh Beasiswa pendidikan sampai selesai tentu setelah bersaing dengan peserta dari seluruh Indonesia.
Saat kuliah di UNY aku juga belajar di STTKOM (Sekolah Tinggi Teknik Komputer), hal ini ditunjang oleh pemikiran bahwa kelak ilmu komputer ini sangat diperlukan dalam mengembangkan profesiku sebagai dosen. Ayahku mengajarkan kalau ingin hidup bermakna, jadilah orang yang bermanfaat dan dibutuhkan orang lain. Supaya bermanfaat dan dibutuhkan orang lain milikilah sesuatu yang orang lain tidak punya baik keilmuan atau ketrampilan. Aku memprediksi ilmu komputer ini kelak akan sangat bermanfaat di almamaterku. Ternyata itu benar....
Setelah selesai kuliah di STTKOM, aku berfikir untuk apa ilmu komputerku ini. Akhirnya otak bisnisku jalan. Aku membuka servis komputer di Yogyakarta dengan nama BETA COMPUTER. Ilmuku benar-benar teruji, pengalaman baruku di dunia komputer makin menantang. Banyak pengetahuan praktis yang tidak aku peroleh di lembaga pendidikan. Bisnisku berkembang dengan membuka rental komputer, jual beli komputer second, jual beli komputer baru, Disain grafis dan olah data statistika dan penelitian. Usahaku makin berkembang dengan menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Alhamdulillah... bisnisku berjalan lancar. Aku bisnis bukan karena kekurangan uang, tapi aku ingin memberi manfaat pada orang lain. Uang mengalir dari banyak sumber antara lain dari gaji, tunjangan dosen, beasiswa dan bisnis. Insya Allah dengan memberi kita tidak menjadi berkurangan. tapi dengan memberi menjadi bertambah. Hal itu aku sudah sangat merasakannya... Syukur Alhamdulillah ya Allah....

4. Sebagai Dosen
Dulu aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi Dosen, paling tinggi hanya menjadi mahasiswa. Cita-cita untuk menjadi PNS juga tidak ada, karena setelah lulus sarjana muda matematika aku pernah punya pengalaman ikut seleksi penerimaan calon pegawai negeri tapi prosesnya harus menyiapkan sejumlah uang kalau ingin lulus, demikian juga cerita teman-temanku. Kalaupun ada uang aku tidak akan nyogok untuk masuk PNS. Kayaknya kelam sekali untuk menjadi PNS.
Setelah menyelesaikan program S-1 jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Susko Pekanbaru (ujian sarjana 25 mei 1991 dan wisuda 9 Desember 1991), ada seleksi penerimaan calon dosen. Waktu itu sekitar bulan oktober 1991. Ijazahku sudah selesai tapi belum bisa diambil karena belum ikut wisuda, tapi bisa dipinjam untuk di foto copy guna keperluan mencari kerja.
Akhirnya aku putuskan untuk ikut tes penerimaan calon dosen, aku tidak punya target untuk lulus. Hanya ingin mencari pengalaman bagaimana rasanya dites sebagai calon dosen itu. Setelah mengikuti 3 kali seleksi yaitu 1). tes kemampuan akademik, alhamdulillah lulus. 2) tes bahasa, bahasa arab dan bahasa inggris, alhamdulillah lulus. terakhir 3) tes wawancara atau psiko tes.  Alhamdulillah lulus. Tidak terbayangkan olehku bisa lulus, dengan melalui masa uji coba 2 tahun. Ternyata aku hanya 1 tahun 8 bulan diangkat sebagai tenaga pengajar dan menjadi Dosen fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Sebagai dosen aku terus meningkatkan kemampuan dan mengupgrade pendidikan formalku, tahun 1996 aku melanjutkan S-2 jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kemudian tahun 2008 aku melanjutkan ke S-3 jurusan Pendidikan Islam di IAIN Imam Bonjol Padang. Saat ini alhamdulillah aku sudah mendapatkan  Sertifikasi Dosen.
5. Menulis Buku 
Semangatku untuk memberikan manfaat pada orang-orang di sekitarku selalu menimbulkan kreatifitas. Aku ingin membagi ilmu pada orang lain agar bermanfaat bagi sesama tapi waktu, tempat dan kesempatannya terbatas sehingga timbul keinginan menulis buku yang bisa dibaca oleh siapa saja tanpa batas. Alhamdulillah sudah lebih sebelas buku yang aku tulis dan diterbitkan secara nasional serta memiliki ISBN, dan saat ini sudah merasakan hasil dari buku-buku yang aku tulis, baik finansial yang aku terima maupun ukhuwah dan silaturrahmi dengan banyak orang yang memanfaatkan buku tersebut. Aku ingin terus menulis sampai akhir hayat ini. Salah satu cara memanjangkan usia adalah dengan menulis buku, sampai hari ini Al-Ghozali, Hamka masih dikenang orang karena banyak tulisannya yang terus dibaca orang.

6. Mengelola Bisnis
Rencana semula bisnis komputer yang aku kembangkan di Yogyakarta akan dikembangkan juga di Pekanbaru, mulai dari Penjualan, rental, servis, desain grafis, olah data dll. Beberapa bidang usaha tersebut diantaranya sangat prospektif di Pekanbaru, namun setelah melakukan survey dan kajian kondisi perputaran barang serta peta bisnis di Pekanbaru agak kurang mendukung. Survey menunjukkan bahwa bisnis perbukuan, percetakan dan alat tulis kantor lebih propektif dan lebih menjanjikan. Apalagi relasi dengan beberapa penerbit sudah ada dan mendukung. Memerlukan waktu 2 tahun untuk mencari lokasi yang strategis dan murah serta membangun relasi dengan penerbit-penerbit, distributor dan suplayer. Semula agak gamang juga, karena dana awal cukup besar untuk menyiapkan tempat, meubler/rak-rak buku, komputer, software, perizinan dll.
Setelah mendapat rekomendasi dan jaminan dari para relasi penerbit dan suplayer akhirnya dengan membaca bismillah dimulailah proses membuka toko buku. Mulai dari memilih tempat, menyiapkan tempat, perizinan dst. Awalnya agak kawatir juga bagaimana mengisi buku-buku dan atk dengan luas toko buku 10mx18m (2 pintu dan 2 lantai). Setelah diyakinkan oleh para relasi yang mengatakan “bahwa mereka akan bantu, .... setelah 2 tahun pasti bapak akan berfikir bagaimana menambah luas ruangan karena tidak ada tempat lagi…” Benar saja saat ini buku-buku sudah padat sekali, banyak penerbit yang mau masuk, tapi tempat sudah penuh, penyusunan buku sudah miring semua supaya hemat tempat. Penerbit yang sudah ada MoU dengan Toko buku Zanafa memasukkan buku juga dibatasi jumlahnya mengingat tempat yang sangat terbatas.
Bagi yang ingin berkunjung ke Toko Buku Zanafa silahkan datang di Jl. HR. Subrantas Kompleks Metropolitan City (MTC)/Giant Blok A. 39-40 Tampan Pekanbaru Riau. 


D. MENDIRIKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Riwayat perjalanan hidupku dalam mendirikan lembaga pendidikan selalu berakhir aku tinggalkan dan lembaga itu mengalami kemunduran atau kehancuran dengan berbagai sebab. Lembaga pendidikan yang aku dirikan meninggalkan kisah yang hanya bisa diambil hikmahnya saja, lembaga pendidikan itu antara lain adalah:
1. Mengelola Taman Pendidikan Al-Quran di Kampung Tg. Belit
2. Mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran 'Arafah (TKA, TPA) di Pekanbaru.
3. Mendirikan SMP Islam Terpadu al-Ma'arif NU Riau
4. Membuat Yayasan dan Mendirikan SD Islam Al-Kaustar di Pekanbaru
Kisahnya adalah sebagai berikut:

1. Mengelola Taman Pendidikan Al-Quran Istiqomah di kampung Tg. Belit.
Masjid Istiqomah memiliki fungsi sebagai tempat ibadah dan tempat pengajaran al-quran, di masjid inilah aku mengembangkan kemampuan membaca al-quran. Sebelumnya aku mulai belajar membaca al-quran di rumah, diajar oleh orang tuaku, di rumahku dijadikan tempat untuk belajar mengaji, yang datang belajar mengaji anak-anak tetangga disekitar rumahku. Namun hal ini tidak lama, setelah itu aku belajar di rumah Ustat Amari mulai dari siap magrib sampai jam 9 malam. Jarak rumah dengan rumah ustat Amari sekitar 800m. Setelah lebih kurang setahun belajar al-quran dengan Ustat Amari, beliau meninggal dunia. Saat itu aku belajar masih jus Amma. Belajar lebih banyak hafalan, tidak ngerti huruf.
Ustat Amari meninggal dunia masih sangat muda, sekitar usia 30 tahun. Proses meninggalnya juga agak luar biasa. Malam itu setelah belajar ngaji dan sholat Isa kami dikumpulkan, kebiasaan ini tidak pernah dilakukan. Sampai istrinyapun bertanya-tanya. Setelah kami dikumpulkan Ustat Amaripun menyampaikan agar kami besok subuh ngumpul di rumahnya. Waktu ditanya untuk apa, beliau hanya menjawab pokoknya besok ngumpul aja, kita lihat besok pagi. Sampai istrinya juga bertanya untuk apa anak-anak dikumpulkan. Setelah kami bubar dan dalam perjalanan pulang, semua anak-anak ngaji pada bertanya-tanya, untuk apa dan ngapa besok subuh itu ke rumah ust Amari. Pertanyaan itu tidak terjawabkan sampai kami tiba di rumah masing-masing. Sebelum waktu subuh tiba sekita jam 03.30 subuh, orang-orang kampung dikejutkan oleh suara ketontong yang bunyinya 3X 3X 3X. Itu adalah bunyi ketontong kematian, semua orang turun ke jalan mencari informasi siapa yang meninggal, karena tidak ada kabar orang kampung yang sakit keras yang kemungkinannya meninggal dunia. Alangkah terkejutnya masyarakat saat itu mendengar kabar bahwa yang meninggal adalah Ust. Amari. Banyak yang tidak percaya, karena selama ini Ist Amari dikenal tidak pernah sakit dan sehat-sehat saja. Saat itu juga orang-orang kampung dan anak-anak ngaji langsung ke rumahnya. Suara orang menangis, meratap menghiasi sudut-sudut rumah ust. Amari. Inilah rupanya yang dimaksud oleh ust. Amari kami disuruh kumpul subuh hari. Ternyata maksudnya adalah takziah mengantar jenazahnya ke peristirahatan yang terakhir. Seperti mimpi, kami sangat kehilangan, rasa tak percaya dengan semua yang terjadi.
Kami tidak bisa lagi mengaji di rumah ust Amari. Setelah itu aku pindah belajar ngaji di masjid Istiqomah, jaraknya cukup jauh sekitar 1,5 Km. Model pembelajaran masih konvensional. Bertahun-tahun aku belajar di sini dengan Ust Syaifur dan Ust Ali Fahkrudin.
Aku mulai mengerti huruf, bisa membaca dengan lancar. Kata ust.ku Aku termasuk yang berbakat. Keinginanku belajar membaca al-quran sangat kuat, semua ilmu membaca al-quran yang dimiliki guruku sudah aku miliki. Aku dijadikan assistennya, aku mengajar anak-anak ngaji yang masih di bawah ku. Sampai akhirnya aku menjadi guru ngaji di masjid ini.
bersambung ............

2. Mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran 'Arafah (TKA, TPA) di Pekanbaru
3. Mendirikan SMP Islam Terpadu al-Ma'arif NU Riau
4. Membuat Yayasan dan Mendirikan SD Islam Al-Kaustar di Pekanbaru

bersambung ...............

Kamis, 18 Agustus 2011

SELAMAT TAHUN BARU 2013

SELAMAT TAHUN BARU 2013
SEMOGA 2013 LEBIH BAIK DARI TAHUN SEBELUMNYA.
Antara lain:
1. Amal ibadahnya
2. Kepribadiannya
3. Rezkinya.
4. Prestasi.
5. Jabatannya.
6. dan seterunya....

Jangan lupa usaha yang disertai Doa..
Kita punya rencana.. tapi Allah yang akan menentukannya...
 

Jumat, 02 April 2010

BUKU TAMU PENGUNJUNG

Bagi anda yang ingin memberikan masukan, pesan, informasi dan lain-lain, silahkan dikirim melalui komentar di bawah ini:

Kamis, 25 Maret 2010

STRATEGI PEMBELAJARAN

ACTIVE LEARNING
(Strategi Pembelajaran Berbasis Student Centered)
oleh: Drs. Hartono, M.Pd
A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi belajar aktif (active learning strategy).

B. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:

-Apa yang saya dengar, saya lupa
-Apa yang saya lihat, saya ingat
-Apa yang saya lakukan, saya paham

Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu:

-Apa yang saya dengar, saya lupa
-Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
-Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham

-Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
-Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai

Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.
Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu:
1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons.
2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar
3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons, sehingga respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan memberi kesan yang kuat pula pada diri anak didik, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya. Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut. Akibat dari hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam memory mereka dalam waktu yang lama (longterm memory), sehingga mereka mampu merecall apa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa mengalami hambatan apapun.
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :

Pembelajaran konvensional (PK)
Pembelajaran Active learning (PA)
PK=Berpusat pada guru
PA=Berpusat pada anak didik
PK=Penekanan pada menerima pengetahuan
PA=Penekanan pada menemukan
PK=Kurang menyenangkan
PA=Sangat menyenangkan
PK=Kurang memberdayakan semua indera danpotensi anak didik
PA=Membemberdayakan semua indera dan potensi anak didik
PK=Menggunakan metode yang monoton
PA=Menggunakan banyak metode
PK=Kurang banyak media yang digunakan
PA=Menggunakan banyak media
PK=Tidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada
PA=Disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada

Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning (belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar siswa.

2. Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran
L. Dee Fink (1999) mengemukakan model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik untuk membaca sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada pengajaran tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.
Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak. Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class?(siapa di kelas), Group Resume (resume kelompok), prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yang anda jaga), Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang disajikan Silberman.

1. Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
a. Bagi kelas menjadi dua kelompok
b. Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran
c. Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.
d. Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.

Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Prosedur :
a. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
b. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
c. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
d. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.

2. GROUP TO GROUP EXCHANGE
Prosedur:
Pilih sebuah topik yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep atau pendekatan untuk ditugaskan. Topik haus mengembangkan sebuah pertukaran pandangan atau informasi (kebelikan teknik aktif debat)
Contoh :
Dua pertempuran terkenal selama perang saudara
Ide dua orang penulis atau lebih
Tahapan perkembangan anak
Cara-cara yang berbeda pengembangan nutrisi
Perbedaan sistem perorganisasian komputer
Bagilah kelas ke dalam kelompok sesuai jumlah tugas. 2 sampai 4 kelompok cocok untuk aktivitas ini. Berikan cukup waktu mempersiapkan bagaimanamereka dapat menyajikan topik yang telah mereka kerjakan
Ketika fase persiapan selesai, mintalah kelompok memilih seorang juru bicara menyampaikan kepada kelompok lain.
Setelah presentasi singkat, doronglah peserta bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan mereka sendiri.
Lanjutkan sisa presentasi agar setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling ditukar. Setelah presentasi kelompok diarahkan untuk menganalisis mengapa terjadi perbedaan.

3.WRITING IN THE HERE AND NOW
PROSEDUR :
Pilih jenis pengalaman yang akan ditulis siswa. Seperti : problem baru, peristiwa keluarga, hari pertama di pekerjaan baru, presentasi, pengalaman dengan teman, situasi belajar.
Informasikan kepada peserta didik tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan penulisan deskriptif
Persiapkan permukaan yang jelas untuk ditulis. Bangunlah privacy dan ketenangan
Perintahkan peseta didik menulis, saat sekarang, tentang pengalaman yang telah dipilih.
Berilah waktu yang cukup untuk menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Setelah mereka selesai ajaklah mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan sekarang.
Diskusikan tindakan-tindakan baru yang bisa mereka lakukan di masa depan.

DAFTAR BACAANBonwell, Charles C., dan James A. Eison, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom,
http://www.gwu.edu/eriche.
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma Instructional Development Program, 1999, http://www.edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
McKeachie W., Teaching Tips: A Guidebook for the Beginning College Teacher, Boston, D.C. Health, 1986.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
Pollio, H.R., “What Students Think About and Do in College Lecture Classes” dalam Teaching-Learning Issues No. 53, Knoxville, Learning Research Centre, University of Tennesse, 1984.
Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, Andi Offset, 1997.
Wenger, Win, Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching & Learning, (terjemahan Ria Sirait dan Purwanto), Nuansa, 2003.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta, Gaung Persada Press, 2003.