Senin, 22 Agustus 2011

KISAH HIDUPKU

Kisah hidup ini ditulis untuk menjadi motivator adik-adik Pelajar dan Mahasiswa. Hidup sukses dan berhasil tidak harus berasal dari keluarga mampu dan modal besar, tapi dimulai dari sebuah mimpi, harapan dan keyakinan bahwa kita bisa. Namun jangan lupa campur tangan Allah SWT. juga akan  turut menentukan...

H A R T O N O

A. MASA KECIL

1. Proses kelahiranku dan hampir terenggutnya nyawaku
Lahir di desa Sepotong kecamatan Bukit Batu kabupaten Bengkalis Riau tanggal 1 Maret 1965, sebuah desa kecil dipinggir jalan antara Siak Sri Indrapura dengan Sungai Pakning.
Proses kelahiranku tidaklah mudah, karena aku dilahirkan pada saat-saat Ibuku sedang sakit kritis. Menurut cerita ayahku penanganan yang dilakukan dukun kampung saat itu tidak sebagaimana mestinya, karena asumsi sang dukun Ibuku sedang diganggu mahkluk halus. Selama ibuku sakit lebih kurang satu bulan aku tidak disusui Ibuku,  aku disusui oleh kerabatku yang menjadi Ibu susuanku dan sudah ku anggap sebagai Ibu kandungku. Kedua ibu kandungku saat ini sudah tiada, semoga mereka mendapat tempat yang layak disisinya. amiiin.
Usia 7 bulan aku dibawa ke Sungai Apit oleh orang tuaku berbelanja untuk keperluan mengadakan acara mitoni (acara adat orang jawa bila anak sudah usia 7 bulan). Transportasi dari Sepotong ke Sungai Apit  menggunakan kapal. Menurut ayahku saat manaiki kapal sudah ada tanda-tanda kapal kelebihan muatan. Ayahku yang sudah punya firasat kurang baik segera mengambil tempat duduk di ujung kapal agar mudah menyelamatkan diri jika ada musibah atau kapal tenggelam, untuk mejaga kemungkinan terburuk ayahku lalu mengambil aku dari gendongan ibuku. Setelah aku diserahkan pada Ayah dan kapal sudah merangkak meninggalkan dermaga, tiba-tiba kapal tidak terkendali miring ke sebelah kanan, seluruh penumpang panik dan berlompatan ke sungai menyelematkan diri. Sementara air terus masuk ke dalam kapal, Saat air sudah memasuki kapal dan mulai tenggelam, ayahku langsung melompat ke sungai menyelamatkan ku. Alhamdulillah ayahku yang memang bisa berenang berhasil sampai di dermaga, dan aku diserahkan pada orang-orang yang ada di dermaga dari bawah dermaga. Setelah aku diserahkan ke orang-orang di atas dermaga, lalu Ayahku langsung mencari Ibuku, setelah kesana kemari akhirnya ayahku berhasil menemukan Ibuku, dengan susah payah ayahku membawa Ibuku ke pinggir sungai, maklumlah Ibuku memang kurang pandai berenang. Perjuangan panjang ayahku berenang membawa Ibu akhirnya sampai di dermaga.  Peristiwa itu meninggalkan trauma dan kesedihan yang mendalam, terutama mereka yang kehilangan keluarga. Peristiwa itu juga banyak meninggalkan cerita, antara lain rumor yang mengatakan ada anak bayi yang luar biasa karena tidak tenggelam di atas air. Menurut ayahku sesungguhnya itu adalah kisah diriku yang diberikan pada orang yang ada di atas dermaga sementara ayahku tetap berada di air, namun kisah itu sudah dimanipulasi. Orang-orang bilang aku ini punya nyawa sambungan....
Peristiwa kedua yang hampir merenggut jiwaku adalah saat usia 3 tahun... Waktu itu sedang banjir di rumahku dan sekitar tetanggaku. Sebagai seorang anak, banjir adalah sesuatu yang menyenangkan karena bisa bermain air, semua hal dipandang dari sudut permainan. Saat itu aku dan temanku main kuda-kudaan lari-lari berkeliling kesana kemari dengan senang hati. Kondisi banjir tidak lagi ada perbedaan mana dataran dan mana kolam. Aku bermain kuda-kudaan dengan temanku beriring-iringan, aku sebelah kanan dan temanku sebelah kiri. Rupanya jalan yang aku lewati adalah kolam, sehingga begitu sampai di kolam aku tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Untung temenku (usianya lebih kurang 3 tahun juga) menyadari bahwa aku dalam keadaan berbahaya. Lalu dia memanggil-manggil ayahnya sambil berteriak-teriak bahwa aku masuk kolam. Jika sedikit saja terlambat maka habislah sudah kehidupan duniaku. Akhirnya aku dapat diselamatkan, isi perutku sudah penuh dengan air. Konon kabarnya saat itu aku sudah tidak sadarkan diri lagi, orang-rang bertangisan karena aku belum siuman juga. Ternyata Allah masih memberikan aku umur panjang, akhirnya aku siuman. Alhamdulillah aku selamat. Memang kalau belum saatnya tiba ada saja jalan untuk tetap hidup.
Peristiwa ini semakin memperkuat opini orang kampung waktu itu bahwa aku ini adalah punya nyawa sambungan. Sehingga kalau ketemu dengan orang tua-tua kampung selalu bilang aku ini punya nyawa sambungan.

2. Hidup ikut orang
Perjalan hidup masa kecilku tidaklah indah sebagaimana anak-anak seusiaku. Usia 8 tahun (kelas 2 SD) aku dititipkan pada orang lain oleh orang tua ku. Aku hidup dengan keluarganya bu Wiji yang punya anak satu, karena orang tua ku bekerja sebagai ketua rombongan kerja mencari kayu balak, sedangkan ibuku bekerja sebagai jurumasaknya. Kehidupanku terasa kering, aku sering sedih, bahkan tidak jarang kadang aku menangis mana kala rindu dengan orang tuaku, terlebih kalau sedang punya masalah. Waktu terasa lama berjalan, tiap hari berharap orang tua pulang. Saat itu tidak ada kebahagiaan yang aku harapkan kecuali saat orang tuaku pulang.
Setelah dari keluarga bu Wiji aku dipindahkan ke keluarganya pak Jais, tetangga depan rumahku. Aku berharap di tempat baru akan mendapatkan yang lebih baik. Ternyata harapan ku sirna. Aku merasa tidak mendapatkan perhatian, aku sering menyendiri, melamun, kehidupanku semakin kering dari kasih sayang dan perhatian. Aku benar-benar menderita secara batiniah. Hal ini terjadi karena pak Jais memiliki 3 orang anak yang butuh perhatian juga. Keluarga ini lebih banyak memperhatikan anak-anaknya dari pada diriku sendiri. Baginya memberiku makan sudah cukup, mereka tidak memahami bahwa yang aku butuhkan bukan hanya sekedar makan tapi lebih dari itu yaitu perhatian dan kasih sayang.
bersambung.........

B. PENDIDIKAN
1. Pendidikan Formal
Aku masuk SD Negeri di Parit 4 desa Sepotong tahun 1972. Beberapa bulan di kelas 1 SD pindah ke SD Negeri Tanjung Belit. Setelah menamatkan SD melanjutkan ke SMP Negeri Lubuk Muda tahun 1982. Selanjutnya masuk ke SMA Negeri Sei. Pakning Jurusan IPA.
Setelah tamat SMA tahun 1985 masuk ke IAIN Susqa ngambil jurusan Pendidikan Matematika (saat itu namanya tadris matematika) program Sarjana Muda selesai 1988. Kemudian melanjutkan Program S-1 jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Susqa selesai tahun 1990. Tahun 1996 kuliah program S-2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) program studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Tahun 2008 Melanjutkan ke Program S-3 di IAIN Imam Bonjol Padang mengambil Program Studi Pendidikan Islam.

2. Pendidikan Tambahan
Tahun 1997 Kuliah di STTKOM (Sekolah Tinggi Teknik Komputer) Yogyakarta, disamping itu belajar secara khusus dengan Prof. Sutrisno Hadi di Yogyakarta mendalami program SPS, dan program Analisis Data Penelitian dan Statistika dengan Komputer.

3.
Prestasi Akademik
Selama belajar di kelas 1 sampai kelas 4 SD aku tidak menunjukkan prestasi yang luar biasa. Hal ini karena belum fokus ke belajar dan sering tidak masuk sekolah karena mendampingi/ikut Bapak/Ayah pergi ke ladang jika musim ladang. Jarak rumah dan ladang cukup jauh, ditempuh dengan menggunakan sampan menyusuri sungai dayang, perjalanan memerlukan waktu berjam-jam. Kami harus menginap di ladang. Setelah selesai musim ladang barulah masuk sekolah lagi.  Waktu kenaikan kelas dari kelas 3 ke kelas 4 hanya naik percobaan karena tidak ikut ujian. Naik percobaan biasanya diberikan pada murid-murid yang kemampuannya rendah (bodoh). Kalau dalam ujicoba ternyata mampu mengikuti maka tetap di kelas 4, tapi kalau tak mampu diturunkan lagi ke kelas 3. Aku sebenarnya malu menyandang prediket naik percobaan, karena itu simbol murid bodoh.
Prestasi akademik baru  aku raih saat kelas 5 ditandai dengan juara 1 saat ujian catur wulan dan juara 1 saat naik ke kelas 6. Aku tidak lagi pergi ke ladang karena orang tuaku berubah profesi menjadi Kepala rombongan kerja kayu balak (kepercayaan toke china). Prestasi yang diperoleh dengan tiba-tiba ini menimbulkan kecemburuan di kalangan teman-temanku, maklumlah selama ini aku tidak pernah diperhitungkan dan tidak pernah menonjol apa lagi pernah naik percobaan, akibatnya di kalangan teman-teman aku disebut sebagai anak kesayangan wali kelas, seolah-olah juara yang aku peroleh karena sebagai anak kesayangan Ibu wali kelas. Hal ini memicu semangatku untuk membuktikan bahwa prestasi yang aku peroleh murni karena kemampuanku. Alhamdulillah di kelas 6 SD aku bisa membuktikan, dengan wali kelas yang berbeda aku tetap mendapat juara 1 sampai tamat. Sehingga aku merupakan tamatan terbaik di SD Negeri Tanjung Belit saat itu. Teman-temanku yang selalu mengejekku "anak kesayangan" tidak lagi berani mengejekku lagi.
Prestasi akademikku terus bertahan sampai SMP dan SMA, aku masuk dalam tiga besar, setiap kali ujian semester aku  selalu mendapat juara, kadang juara 1, kadang juara 2 dan kadang juara 3. Sainganku di SMP dan SMA selalu dari siswi putri.

4.
Kisah-kisah di SMA
Banyak kisah atau peristiwa yang terjadi saat SMA (aku ingin menulisnya dalam sebuah buku), salah satu diantaranya adalah berikut ini:
Jarak sekolah dengan rumahku sangat jauh lk. 18 Km aku tempuh dengan naik sepeda, kondisi jalan yang aku tempuh adalah jalan tanah liat, bila malam atau pagi hujan maka tanah jalan lengket ke sepeda sampai sepeda tidak bisa jalan karena rodanya dipenuhi tanah. Terpaksa aku harus berhenti dulu membersihkan roda yang sudah dipenuhi tanah, setelah bersih barulah jalan lagi, beberapa kilo kemudian roda sudah penuh dengan tanah lagi, berhenti lagi, bersihkan lagi,  demikianlah seterusnya sampai ke sekolah. Tiba di sekolah aku pasti terlambat, beberapa kali aku di panggil wakil kepala sekolah karena terlambat. Suatu ketika saat aku terlambat, aku masuk kelas, semua siswa memandangiku termasuk guru matematika yang sedang mengajar pagi itu, aku duduk di tempat duduk ku. Rupanya bu guru sudah selesai menjelaskan,  Di papan tulis aku lihat pokok bahasannya tentang matrik, lalu ada soal latihan, bu guru sedang menawarkan pada siswa, katanya "siapa yang bisa mengerjakan silahkan maju ke depan".... sudah beberapa kali di tawarkan tidak ada yang maju. Akhirnya aku tunjuk tangan "saya buk.." serentak semua teman-temanku ketawa, bu guru hanya tersenyum. Sungguh peristiwa yang tak terlupakan, aku masih ingat respon wajah kawan-kawan dan bu guru saat aku tunjuk tangan. Wajah ragu, heran, kagum, cemeeh.... menghiasi wajah-wajah mereka.  Logikanya aku tidak mungkin bisa mengerjakan karena tidak mengikuti penjelasannya. Malam itu hujan, maka waktu subuh yang biasanya aku gunakan untuk bekerja aku tidak bekerja menyadap karet lagi, maka waktu itu aku manfaatkan untuk belajar termasuk pokok bahasan matrik yang akan dipelajari pagi itu. Hujan malam itulah yang menyebabkan jalan rusak dan aku terlambat.
Akupun melangkah mantap menuju papan tulis mengerjakan latihan matematika, karena aku yakin aku bisa. Setelah latihan selesai aku kerjakan lalu dicermati bu guru dan dikoreksi ternyata hasilnya benar semua, aku mendapat pujian dan applaus dari teman-teman dan bu guru. Duuhh senangnya hati. Peristiwa ini membuat amej bahwa aku siswa pintar. Sesungguhnya aku tidaklah pintar, ada temanku yang lebih pintar, lebih hebat dariku, aku hanya rajin belajar berusaha dan terus berusaha kalau tak paham. Banyak temanku bertanya bagaimana cara aku belajar, aku ceritakan bahwa aku sekolah sambil kerja. Sebelum berangkat sekolah aku bekerja bangun jam 3 subuh, pulang sekolah kerja lagi sampai jam 17 sore. Rata-rata meraka tidak percaya.
Alhamdulillah akhir studiku di SMA aku juga merupakan tamatan terbaik saat itu.
bersambung ............

5.
Masuk Perguruan Tinggi Tidak Lulus
Keinginanku untuk melanjutkan kuliah sangat besar, keinginan itu didasari untuk mengubah nasib. Jalan untuk mengubah nasib adalah dengan melalui pendidikan. Aku tidak ingin nasibku sama seperti teman-temanku di kampung. Namun persoalannya adalah dana, aku tidak berasal dari keluarga mampu, sehingga wajar kalau orang tuaku tidak punya harapan besar aku melanjutkan kuliah. Tekatku untuk kuliah sudah sangat kuat sejak masuk SMA, aku harus bisa kuliah walaupun hanya satu tahun jadi mahasiswa. Aku harus bisa kuliah dan merasakan jadi mahasiswa. Pikiranku saat itu adalah  harus bisa kuliah kalau ingin mengubah nasibku, targetku saat itu tidak muluk-muluk hanya ingin merasakan jadi mahasiswa. Aku tidak menghayalkan jadi sarjana karena aku menyadari kemampuan ekonomi keluargaku. Persiapan untuk kuliah mulai kulakukan sejak kelas 1 SMA dengan cara menabung. Aku sekolah sambil kerja menyadap karet, jam 3 subuh bangun menyadap karet pulang jam 6, jam 6.30 pagi berangkat sekolah pakai sepeda. Maklumlah jarak rumahku dengan sekolah cukup jauh lebih kurang 18 Km. Pulang sekolah jam 13.00 sampai rumah lk. jam 14.00. Jam 15.00 aku kerja lagi sampai jam 17.00.  Begitulah seterusnya sampai aku tamat SMA.
Menjelang tamat SMA tabunganku sudah cukup untuk ikut tes masuk perguruan tinggi (saat itu namanya SIPENMARU=Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, sekarang namanya SMPTN) dan biaya hidup untuk beberapa bulan di Pekanbaru.
Sampai saatnya akupun berangkat ke Pekanbaru mendaftar SIPENMARU, begitu besarnya harapan untuk bisa kuliah aku mengambil 2 formulir untuk 2 jurusan yaitu IPA dan IPS, karena jurusan IPA saat itu bisa ngambil 2 jurusan dengan 2 kali tes. Jurusan pertama ngambil jurusan IPA dengan 2 pilihan yaitu pilihan 1 ngambil pendidikan matematika dan pilihan ke 2 ngambil Pendidikan Biologi. Sedangkan jurusan IPS ngambil pendidikan ekonomi dan pilihan ke 2 ngambil pendidikan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Setelah mengikuti tes aku yakin bisa lulus dari salah satu pilihan dari 4 pilihan yang sudah aku pilih. Setelah pengumuman keluar ternyata nomor tesku tidak tercantum dalam daftar peserta tes yang dinyatakan lulus. Aku tidak lulus, aku kecewa, aku sedih, aku mau menangis. Teman-temanku yang kemampuannya di bawahku ternyata lulus dengan pilihan jurusan yang sama dan pilihan yang sama. Aku mulai putus asa menyesali nasib. Namun saat itu aku berfikir tidak boleh menyerah, aku harus bisa kuliah. Selanjutnya aku pergi ke UIR (Universitas Islam Riau) menjajaki kemungkinan bisa kuliah disana, akhirnya aku putuskan kuliah di UIR setelah melihat program studi yang ada disana dan biaya kuliah yang sudah kuukur dengan kemampuanku, walaupun aku ragu dengan kemampuan finansialku.
Setelah pulang dari UIR malam itu makan bersama dengan Kang Hurmain, kami diskusi masalah melanjutkan kuliah, aku percaya dan yakin dengan pertimbangan-pertimbangan yang dia berikan, apalagi dia seorang Dosen yang tau seluk beluk Perguruan Tinggi. Akhirnya keinginanku masuk UIR kubatalkan dan kuputuskan masuk IAIN Susqo ngambil jurusan pendidikan matematika. Akhirnya jadilah aku sebagai seorang Mahasiswa IAIN Susqo Pekanbaru.

C. RIWAYAT PEKERJAAN

1. Sekolah sambil kerja
Sejak kelas 3 SD aku sudah bekerja menyadap karet membantu orang tua di Kampung. Beratnya pekerjaan yang aku rasakan menempa mentalku lebih tegar dalam menghadapi hidup. Kelas 4 SD disamping kerja menyadap karet aku juga jualan di Sekolah, antara lain jualan kacang rebus, krupuk pedas dll. Saat di SMP aku tetap bekerja menyadap karet sampai SMA.
Setelah kuliah kebiasaan bekerja tetap aku lakukan, apalagi dorongan kuliah juga sangat besar. Setelah kuliah di Semester I aku mencari peluang untuk bisa bekerja. Peluang pertama yang aku tangkap untuk bisa bekerja adalah menjadi guru ngaji pripat ke rumah-rumah.

2.
Menjadi guru ngaji dan les privat matematika
Alhamdulillah kemampuanku dibidang membaca al-Quran terasa manfaatnya. Sejak SD aku sudah dekat dengan masjid, bermain di masjid, mulai belajar ngaji di masjid sampai menjadi guru ngaji di masjid Istiqomah Tanjung Belit, dari SD sampai SMA aku menjadi guru ngaji di masjid tersebut. Aku merupakan murid ngaji yang terbaik di Taman Pendidikan Al-Quran itu.  Sejak kelas 4 SD aku sudah ikut MTQ tingkat anak-anak dan mendapat juara 1 tingkat RT/RW, demikian juga MTQ tingkat antar desa, selalu menjadi juara 1 sampai tingkat kecamatan. Tiap tahun aku selalu menjadi peserta tetap dalam MTQ sampai tingkat remaja. Aku juga pernah ikut MTQ antar Pertamina tingkat anak-anak mewakili Pertamina Sei. Pakning.
Setelah di Pekanbaru kemampuanku membaca al-Quran terus  kutingkatkan, aku bergabung di LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Riau yang dipandu oleh Ust. Masy'ari dan Ust. Ramli. Aku juga ikut mengisi acara pembinaan seni baca al-Qur'an di RRI setiap hari jum'at jam 16.00. Hal ini menjadi pintu masuk aku mengisi acara di RRI seperti acara berbalas pantun dan mengisi acara-acara yang ada pembacaan al-Quran, sehingga aku sering rekaman membaca al-Quran di RRI. Selama di Pekanbaru aku juga selalu mengikuti MTQ tingkat RT/RW sampai tingkat kecamatan dan kota madya.
Tidak kuduga, kemampuan baca al-quran telah menjadi peluang mendapatkan rezki untuk biaya kuliah. Disamping memberikan les baca al-quran aku juga memberi les matematika. Makin hari makin banyak permintaan masyarakat untuk menjadi guru les ngaji dan guru matematika tingkat SD sampai SMA. Alhamdulillah dari penghasilan menjadi guru les telah mencukupi biaya kuliah.
Disamping menjadi guru les pripat, aku juga mengajar di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah di Sail sebagai guru matematika.  Alhamdulillah Aku sudah bisa mandiri dari sisi kebutuhan keuangan bahkan melebihi dari kebutuhan biaya kuliah dan biaya hidup, aku sudah tidak minta kiriman orang tua lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah.
Bakat bisnisku mencari uang terus berkembang, mungkin bakat bisnisku merupakan keturunan dari orang tua, karena ibuku juga di kenal sebagai pebisnis dikampungku. Setelah aku punya modal dari hasil menabung, aku memodali usaha beberapa orang untuk berjualan dengan perjanjian bagi hasil, hasilnya lumayan. Mitraku dari waktu ke waktu terus bertambah, aku tinggal mengontrol. Begitulah sampai akhirnya aku menyelesaikan pendidikan S1. Selesai pendidikan S-1 aku ikut tes calon Dosen di fakultas Tarbiyah IAIN Susqo, aku tidak begitu berharap untuk bisa lulus, tapi targetku hanya ingin cari pengalaman rasanya di tes jadi Dosen, seteleh mengikuti tes potensi akademik, tes kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris serta psiko tes, alhamdulillah aku dinyatakan lulus sebagai calon Dosen di IAIN Susqo Pekanbaru. Setelah 2 tahun akhirnya aku diangkat sebagai tenaga pengajar, 2 tahun kemudian barulah menjadi tenaga edukatif (Dosen sepenuhnya) dan mendapat tunjangan Dosen.

3.
Kuliah Sambil Bisnis
Aku diangkat sebagai Dosen dengan matakuliah keahlian STATISTIK PENDIDIKAN, aku ingin jadi Dosen yang profesional, untuk mendalami statistik tidak bisa melanjutkan S-2 ke IAIN karena di IAIN tidak ada program studi yang serumpun dengan Statistik Pendidikan, maka harus mendalami keilmuan tersebut ke Perguruan Tinggi Umum. Pilihan melanjutkan S-2 adalah ke UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) dengan berbagai macam pertimbangan. Namun ternyata hal itu tidak mudah, karena tidak mendapat Izin Rektor, dalam aturan kuliah lintas departemen yang berhak memberi izin adalah kementrian agama pusat katanya. Proses itu aku lalui dengan mengurus izin kuliah lintas departemen ke departemen agama. Alahamdulillah akhirnya izin itu aku peroleh. Setelah ikut tes alhamdulillah dinyatakan lulus pada program studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di UNY Yogyakarta. Kuliah S-2 alhamdulillah memperoleh Beasiswa pendidikan sampai selesai tentu setelah bersaing dengan peserta dari seluruh Indonesia.
Saat kuliah di UNY aku juga belajar di STTKOM (Sekolah Tinggi Teknik Komputer), hal ini ditunjang oleh pemikiran bahwa kelak ilmu komputer ini sangat diperlukan dalam mengembangkan profesiku sebagai dosen. Ayahku mengajarkan kalau ingin hidup bermakna, jadilah orang yang bermanfaat dan dibutuhkan orang lain. Supaya bermanfaat dan dibutuhkan orang lain milikilah sesuatu yang orang lain tidak punya baik keilmuan atau ketrampilan. Aku memprediksi ilmu komputer ini kelak akan sangat bermanfaat di almamaterku. Ternyata itu benar....
Setelah selesai kuliah di STTKOM, aku berfikir untuk apa ilmu komputerku ini. Akhirnya otak bisnisku jalan. Aku membuka servis komputer di Yogyakarta dengan nama BETA COMPUTER. Ilmuku benar-benar teruji, pengalaman baruku di dunia komputer makin menantang. Banyak pengetahuan praktis yang tidak aku peroleh di lembaga pendidikan. Bisnisku berkembang dengan membuka rental komputer, jual beli komputer second, jual beli komputer baru, Disain grafis dan olah data statistika dan penelitian. Usahaku makin berkembang dengan menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Alhamdulillah... bisnisku berjalan lancar. Aku bisnis bukan karena kekurangan uang, tapi aku ingin memberi manfaat pada orang lain. Uang mengalir dari banyak sumber antara lain dari gaji, tunjangan dosen, beasiswa dan bisnis. Insya Allah dengan memberi kita tidak menjadi berkurangan. tapi dengan memberi menjadi bertambah. Hal itu aku sudah sangat merasakannya... Syukur Alhamdulillah ya Allah....

4. Sebagai Dosen
Dulu aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi Dosen, paling tinggi hanya menjadi mahasiswa. Cita-cita untuk menjadi PNS juga tidak ada, karena setelah lulus sarjana muda matematika aku pernah punya pengalaman ikut seleksi penerimaan calon pegawai negeri tapi prosesnya harus menyiapkan sejumlah uang kalau ingin lulus, demikian juga cerita teman-temanku. Kalaupun ada uang aku tidak akan nyogok untuk masuk PNS. Kayaknya kelam sekali untuk menjadi PNS.
Setelah menyelesaikan program S-1 jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Susko Pekanbaru (ujian sarjana 25 mei 1991 dan wisuda 9 Desember 1991), ada seleksi penerimaan calon dosen. Waktu itu sekitar bulan oktober 1991. Ijazahku sudah selesai tapi belum bisa diambil karena belum ikut wisuda, tapi bisa dipinjam untuk di foto copy guna keperluan mencari kerja.
Akhirnya aku putuskan untuk ikut tes penerimaan calon dosen, aku tidak punya target untuk lulus. Hanya ingin mencari pengalaman bagaimana rasanya dites sebagai calon dosen itu. Setelah mengikuti 3 kali seleksi yaitu 1). tes kemampuan akademik, alhamdulillah lulus. 2) tes bahasa, bahasa arab dan bahasa inggris, alhamdulillah lulus. terakhir 3) tes wawancara atau psiko tes.  Alhamdulillah lulus. Tidak terbayangkan olehku bisa lulus, dengan melalui masa uji coba 2 tahun. Ternyata aku hanya 1 tahun 8 bulan diangkat sebagai tenaga pengajar dan menjadi Dosen fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Sebagai dosen aku terus meningkatkan kemampuan dan mengupgrade pendidikan formalku, tahun 1996 aku melanjutkan S-2 jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), kemudian tahun 2008 aku melanjutkan ke S-3 jurusan Pendidikan Islam di IAIN Imam Bonjol Padang. Saat ini alhamdulillah aku sudah mendapatkan  Sertifikasi Dosen.
5. Menulis Buku 
Semangatku untuk memberikan manfaat pada orang-orang di sekitarku selalu menimbulkan kreatifitas. Aku ingin membagi ilmu pada orang lain agar bermanfaat bagi sesama tapi waktu, tempat dan kesempatannya terbatas sehingga timbul keinginan menulis buku yang bisa dibaca oleh siapa saja tanpa batas. Alhamdulillah sudah lebih sebelas buku yang aku tulis dan diterbitkan secara nasional serta memiliki ISBN, dan saat ini sudah merasakan hasil dari buku-buku yang aku tulis, baik finansial yang aku terima maupun ukhuwah dan silaturrahmi dengan banyak orang yang memanfaatkan buku tersebut. Aku ingin terus menulis sampai akhir hayat ini. Salah satu cara memanjangkan usia adalah dengan menulis buku, sampai hari ini Al-Ghozali, Hamka masih dikenang orang karena banyak tulisannya yang terus dibaca orang.

6. Mengelola Bisnis
Rencana semula bisnis komputer yang aku kembangkan di Yogyakarta akan dikembangkan juga di Pekanbaru, mulai dari Penjualan, rental, servis, desain grafis, olah data dll. Beberapa bidang usaha tersebut diantaranya sangat prospektif di Pekanbaru, namun setelah melakukan survey dan kajian kondisi perputaran barang serta peta bisnis di Pekanbaru agak kurang mendukung. Survey menunjukkan bahwa bisnis perbukuan, percetakan dan alat tulis kantor lebih propektif dan lebih menjanjikan. Apalagi relasi dengan beberapa penerbit sudah ada dan mendukung. Memerlukan waktu 2 tahun untuk mencari lokasi yang strategis dan murah serta membangun relasi dengan penerbit-penerbit, distributor dan suplayer. Semula agak gamang juga, karena dana awal cukup besar untuk menyiapkan tempat, meubler/rak-rak buku, komputer, software, perizinan dll.
Setelah mendapat rekomendasi dan jaminan dari para relasi penerbit dan suplayer akhirnya dengan membaca bismillah dimulailah proses membuka toko buku. Mulai dari memilih tempat, menyiapkan tempat, perizinan dst. Awalnya agak kawatir juga bagaimana mengisi buku-buku dan atk dengan luas toko buku 10mx18m (2 pintu dan 2 lantai). Setelah diyakinkan oleh para relasi yang mengatakan “bahwa mereka akan bantu, .... setelah 2 tahun pasti bapak akan berfikir bagaimana menambah luas ruangan karena tidak ada tempat lagi…” Benar saja saat ini buku-buku sudah padat sekali, banyak penerbit yang mau masuk, tapi tempat sudah penuh, penyusunan buku sudah miring semua supaya hemat tempat. Penerbit yang sudah ada MoU dengan Toko buku Zanafa memasukkan buku juga dibatasi jumlahnya mengingat tempat yang sangat terbatas.
Bagi yang ingin berkunjung ke Toko Buku Zanafa silahkan datang di Jl. HR. Subrantas Kompleks Metropolitan City (MTC)/Giant Blok A. 39-40 Tampan Pekanbaru Riau. 


D. MENDIRIKAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Riwayat perjalanan hidupku dalam mendirikan lembaga pendidikan selalu berakhir aku tinggalkan dan lembaga itu mengalami kemunduran atau kehancuran dengan berbagai sebab. Lembaga pendidikan yang aku dirikan meninggalkan kisah yang hanya bisa diambil hikmahnya saja, lembaga pendidikan itu antara lain adalah:
1. Mengelola Taman Pendidikan Al-Quran di Kampung Tg. Belit
2. Mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran 'Arafah (TKA, TPA) di Pekanbaru.
3. Mendirikan SMP Islam Terpadu al-Ma'arif NU Riau
4. Membuat Yayasan dan Mendirikan SD Islam Al-Kaustar di Pekanbaru
Kisahnya adalah sebagai berikut:

1. Mengelola Taman Pendidikan Al-Quran Istiqomah di kampung Tg. Belit.
Masjid Istiqomah memiliki fungsi sebagai tempat ibadah dan tempat pengajaran al-quran, di masjid inilah aku mengembangkan kemampuan membaca al-quran. Sebelumnya aku mulai belajar membaca al-quran di rumah, diajar oleh orang tuaku, di rumahku dijadikan tempat untuk belajar mengaji, yang datang belajar mengaji anak-anak tetangga disekitar rumahku. Namun hal ini tidak lama, setelah itu aku belajar di rumah Ustat Amari mulai dari siap magrib sampai jam 9 malam. Jarak rumah dengan rumah ustat Amari sekitar 800m. Setelah lebih kurang setahun belajar al-quran dengan Ustat Amari, beliau meninggal dunia. Saat itu aku belajar masih jus Amma. Belajar lebih banyak hafalan, tidak ngerti huruf.
Ustat Amari meninggal dunia masih sangat muda, sekitar usia 30 tahun. Proses meninggalnya juga agak luar biasa. Malam itu setelah belajar ngaji dan sholat Isa kami dikumpulkan, kebiasaan ini tidak pernah dilakukan. Sampai istrinyapun bertanya-tanya. Setelah kami dikumpulkan Ustat Amaripun menyampaikan agar kami besok subuh ngumpul di rumahnya. Waktu ditanya untuk apa, beliau hanya menjawab pokoknya besok ngumpul aja, kita lihat besok pagi. Sampai istrinya juga bertanya untuk apa anak-anak dikumpulkan. Setelah kami bubar dan dalam perjalanan pulang, semua anak-anak ngaji pada bertanya-tanya, untuk apa dan ngapa besok subuh itu ke rumah ust Amari. Pertanyaan itu tidak terjawabkan sampai kami tiba di rumah masing-masing. Sebelum waktu subuh tiba sekita jam 03.30 subuh, orang-orang kampung dikejutkan oleh suara ketontong yang bunyinya 3X 3X 3X. Itu adalah bunyi ketontong kematian, semua orang turun ke jalan mencari informasi siapa yang meninggal, karena tidak ada kabar orang kampung yang sakit keras yang kemungkinannya meninggal dunia. Alangkah terkejutnya masyarakat saat itu mendengar kabar bahwa yang meninggal adalah Ust. Amari. Banyak yang tidak percaya, karena selama ini Ist Amari dikenal tidak pernah sakit dan sehat-sehat saja. Saat itu juga orang-orang kampung dan anak-anak ngaji langsung ke rumahnya. Suara orang menangis, meratap menghiasi sudut-sudut rumah ust. Amari. Inilah rupanya yang dimaksud oleh ust. Amari kami disuruh kumpul subuh hari. Ternyata maksudnya adalah takziah mengantar jenazahnya ke peristirahatan yang terakhir. Seperti mimpi, kami sangat kehilangan, rasa tak percaya dengan semua yang terjadi.
Kami tidak bisa lagi mengaji di rumah ust Amari. Setelah itu aku pindah belajar ngaji di masjid Istiqomah, jaraknya cukup jauh sekitar 1,5 Km. Model pembelajaran masih konvensional. Bertahun-tahun aku belajar di sini dengan Ust Syaifur dan Ust Ali Fahkrudin.
Aku mulai mengerti huruf, bisa membaca dengan lancar. Kata ust.ku Aku termasuk yang berbakat. Keinginanku belajar membaca al-quran sangat kuat, semua ilmu membaca al-quran yang dimiliki guruku sudah aku miliki. Aku dijadikan assistennya, aku mengajar anak-anak ngaji yang masih di bawah ku. Sampai akhirnya aku menjadi guru ngaji di masjid ini.
bersambung ............

2. Mendirikan Lembaga Pendidikan Al-Quran 'Arafah (TKA, TPA) di Pekanbaru
3. Mendirikan SMP Islam Terpadu al-Ma'arif NU Riau
4. Membuat Yayasan dan Mendirikan SD Islam Al-Kaustar di Pekanbaru

bersambung ...............

1 komentar:

  1. Masya Allah .... sangat mengaharukan. Terimakasih pak, saya menjadi tergugah untuk berbuat seperti bapak. Mudah-mudahan makin banyak orang yang selalu memberi manfaat seperti bapak. amiin.

    BalasHapus