Kamis, 25 Maret 2010

STRATEGI PEMBELAJARAN

ACTIVE LEARNING
(Strategi Pembelajaran Berbasis Student Centered)
oleh: Drs. Hartono, M.Pd
A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi belajar aktif (active learning strategy).

B. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:

-Apa yang saya dengar, saya lupa
-Apa yang saya lihat, saya ingat
-Apa yang saya lakukan, saya paham

Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu:

-Apa yang saya dengar, saya lupa
-Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
-Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham

-Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
-Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai

Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.
Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan, serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja, sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu:
1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons.
2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lancar
3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat. Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons, sehingga respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan memberi kesan yang kuat pula pada diri anak didik, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya. Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang mendalam pada diri anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut. Akibat dari hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam memory mereka dalam waktu yang lama (longterm memory), sehingga mereka mampu merecall apa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa mengalami hambatan apapun.
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :

Pembelajaran konvensional (PK)
Pembelajaran Active learning (PA)
PK=Berpusat pada guru
PA=Berpusat pada anak didik
PK=Penekanan pada menerima pengetahuan
PA=Penekanan pada menemukan
PK=Kurang menyenangkan
PA=Sangat menyenangkan
PK=Kurang memberdayakan semua indera danpotensi anak didik
PA=Membemberdayakan semua indera dan potensi anak didik
PK=Menggunakan metode yang monoton
PA=Menggunakan banyak metode
PK=Kurang banyak media yang digunakan
PA=Menggunakan banyak media
PK=Tidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada
PA=Disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada

Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning (belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar siswa.

2. Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran
L. Dee Fink (1999) mengemukakan model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik untuk membaca sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada pengajaran tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.
Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak. Metode tersebut antara lain Trading Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class?(siapa di kelas), Group Resume (resume kelompok), prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yang anda jaga), Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang disajikan Silberman.

1. Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
a. Bagi kelas menjadi dua kelompok
b. Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran
c. Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.
d. Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.

Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Prosedur :
a. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
b. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
c. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
d. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.

2. GROUP TO GROUP EXCHANGE
Prosedur:
Pilih sebuah topik yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep atau pendekatan untuk ditugaskan. Topik haus mengembangkan sebuah pertukaran pandangan atau informasi (kebelikan teknik aktif debat)
Contoh :
Dua pertempuran terkenal selama perang saudara
Ide dua orang penulis atau lebih
Tahapan perkembangan anak
Cara-cara yang berbeda pengembangan nutrisi
Perbedaan sistem perorganisasian komputer
Bagilah kelas ke dalam kelompok sesuai jumlah tugas. 2 sampai 4 kelompok cocok untuk aktivitas ini. Berikan cukup waktu mempersiapkan bagaimanamereka dapat menyajikan topik yang telah mereka kerjakan
Ketika fase persiapan selesai, mintalah kelompok memilih seorang juru bicara menyampaikan kepada kelompok lain.
Setelah presentasi singkat, doronglah peserta bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan mereka sendiri.
Lanjutkan sisa presentasi agar setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling ditukar. Setelah presentasi kelompok diarahkan untuk menganalisis mengapa terjadi perbedaan.

3.WRITING IN THE HERE AND NOW
PROSEDUR :
Pilih jenis pengalaman yang akan ditulis siswa. Seperti : problem baru, peristiwa keluarga, hari pertama di pekerjaan baru, presentasi, pengalaman dengan teman, situasi belajar.
Informasikan kepada peserta didik tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan penulisan deskriptif
Persiapkan permukaan yang jelas untuk ditulis. Bangunlah privacy dan ketenangan
Perintahkan peseta didik menulis, saat sekarang, tentang pengalaman yang telah dipilih.
Berilah waktu yang cukup untuk menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Setelah mereka selesai ajaklah mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan sekarang.
Diskusikan tindakan-tindakan baru yang bisa mereka lakukan di masa depan.

DAFTAR BACAANBonwell, Charles C., dan James A. Eison, Active Learning: Creating Excitement in the Classroom,
http://www.gwu.edu/eriche.
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma Instructional Development Program, 1999, http://www.edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
McKeachie W., Teaching Tips: A Guidebook for the Beginning College Teacher, Boston, D.C. Health, 1986.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
Pollio, H.R., “What Students Think About and Do in College Lecture Classes” dalam Teaching-Learning Issues No. 53, Knoxville, Learning Research Centre, University of Tennesse, 1984.
Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, Andi Offset, 1997.
Wenger, Win, Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching & Learning, (terjemahan Ria Sirait dan Purwanto), Nuansa, 2003.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta, Gaung Persada Press, 2003.

EVALUASI PEMBELAJARAN

EVALUASI TES HASIL PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI
Oleh : Hartono



PENGOLAHAN TES HASIL BELAJAR
A. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Objektif
Analisis tes hasil belajar bentuk objektif dapat diketahui dari dua kriteria atau dua parameter, yaitu indeks kesukaran dan indeks daya diskriminasi. Menurut Fernandes (1984) analisis tes meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, dan efektifitas pengecoh. Analisis juga untuk menguji efektifitas distraktor pada setiap butir soal untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Hasil analisis ini akan menghasilkan suatu keputusan apakah butir soal itu nantinya dapat dipakai, diperbaiki atau dibuang.
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan analisis psikometrik klasik. Teori tes klasik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal sangat bergantung pada sampel yang digunakan dalam analisis. Kondisi sampel sangat mempengaruhi hasil analisis, bila sampel yang digunakan memiliki rentang dan sebaran kemampuan yang tinggi maka hasil analisisnya akan berbeda dengan rentang dan sebaran kemampuan siswa yang rendah. Sebagai contoh daya pembeda soal akan tinggi bila tingkat kemampuan siswa sangat bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar. Sebaliknya daya pembeda soal akan kecil bila tingkat kemampuan siswa mempunyai rentang kemampuan yang kecil. Oleh karena itu kondisi sampel sangat mempengaruhi perhitungan statistik yang dihasilkannya.
Guna mengatasi kelemahan dari teori tes klasik, maka langkah yang dapat ditempuh adalah berhati-hati dalam mengambil sampel. Dengan kata lain sampel yang digunakan harus benar-benar mewakili (representatif) dari populasi. Bila sampel yang digunakan tidak representatif maka akibatnya hasil analisis tidak bisa digeneralisasikan pada populasi. Berikut ini akan dibahas karakteristik tes yang akan menentukan kualitas tes.
1. Tingkat Kesukaran
Untuk menghitung tingkat kesukaran (p) cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhannya.
Untuk menentukan butir soal tersebut mudah, sedang atau sukar dapat digunakan kriteria sebagai berikut : (Bahrul Hayat, 1997)

Tabel Tingkat Kesukaran Soal
Proportion correct (p) dan Kategori Soal
P > 0,70 = Mudah
0,30 < 70 =" Sedang" 30 =" Sukar" p =" 0,600" d =" niT" nit =" Banyaknya" nt =" Banyaknya" nir =" Banyaknya" nr =" Banyaknya" d =" pT" 40 =" Bagus" 39 =" Bagus" 29 =" Belum" 20 =" Jelek" 100 =" 80">

B. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Essay
1. Cara Memeriksa tes Essay
Memeriksa tes bentuk essay lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif.
Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif.
Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya.
Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya.
Bila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua maka cara kedua lebih objektif. Sedangkan cara pertama lebih subjektif. Oleh karena itu sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif gunakan cara kedua.

2. Pemberian Skoring pada tes Essay
Pemberian skoring dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran, misalnya skala 1-4, 1-10 dan 1-100. Sebaiknya jangan memberikan skor nol. Mulailah skoring dari angka 1. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan maka hasilnya semakin halus dan akurat. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal.
Setelah menetapkan skoring langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebaiknya gunakan skala 1-10. misalnya soal yang mudah diberi bobot 2, sedang bobotnya 3 dan soal yang sulit bobotnya 5.
Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas, dimana setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran. Sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama.
Proses penetapan skornya adalah sebagai berikut:
1. skor setiap Item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali Bobot.
2. Jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item lalu dibagi dengan skor ideal.
Untuk lebih jelasnya berikut akan diberikan contoh perhitungan.

Nilai rata-rata sebelum diberi bobot adalah 35/6 = 5,833
Nilai rata-rata setelah diberi bobot adalah 104/35 = 2,971
Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal essay sangat penting, karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda.

C. Penetapan Nilai dan Kelulusan Hasil belajar
Menetapkan nilai hasil belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan acuan patokan dan menggunakan acuan norma. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Oleh karena itu sebaiknya dipakai keduanya dengan cara bergantian.
Perhitungan skor di atas masih dalam bentuk skor mentah, oleh karena itu hasil perhitungannya perlu diolah lagi guna menentukan nilai akhir. Setidak-tidak nya ada dua fungsi yaitu:
menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dibandingkan dengan kelompoknya.
menentukan batas kelulusan berdasarkan kriteria yang ditentukan.
Untuk menentukan batas kelulusan setidak-tidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu batas lulus aktual, batas lulus ideal dan batas lulus purposif. Berikut akan dijelaskan secara ringkas.
Batas lulus aktual
Batas lulus aktual didasarkan pada nilai rata-rata aktual yang dicapai oleh kelompok mahasiswa, yang perlu dihitung adalah nilai rata-rata dan standar deviasinya. Skor yang dinyatakan lulus adalah skor di atas X + 0,25SD.
Batas lulus ideal
Batas lulus ideal hampir sama dengan batas lulus aktual, karena batas lulus ideal juga menggunakan rata-rata dan simpangan baku. Bedanya batas lulus ideal rata-ratanya ditentukan setengah dari skor maksimum. Sedangkan simpangan baku sepertiga dari nilai rata-rata ideal.
Batas lulus purposif
Batas lulus purposif mengacu pada penilaian acuan patokan, sehingga tidak perlu menghitung nialai rata-rata dan simpangan bakunya. Nilai dibuat berdasarkan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan. Misalnya batas kelulusan adalah skor di atas 75% dari skor maksimum. Misalnya nilai maksimum mahasiswa di kelas 80. maka batas kelulusannya adalah 75% x 80 = 60. jadi mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah yang nilainya lebih dari 60. sedangkan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 dinyatakan tidak lulus.
D. Konversi Hasil Scoring Menjadi Nilai Akhir
Kesalahan sering terjadi pada pemberian nilai akhir, dimana hasil skoring dianggap sebuah nilai akhir. Padahal seharusnya hasil skoring tersebut harus dikonversi dulu menjadi nilai akhir dalam bentuk skala yang sudah ditetapkan sebelumnya, dalam bentuk skala 1-4, skala 1-10 dan skala 1-100. berikut akan dibahas cara mengkonversi hasil skor menjadi nilai akhir.

Konversi Sederhana
Cara ini sangat sederhana dan mengabaikan tingkat ketelitian dan keakuratan data, tidak mustahil akan terjadi kesalahan interpretasi. Karena cara ini mengabaikan tingkat variansi kemampuan mahasiswa. Misalnya kriteria yang digunakan dalam bentuk persentase.
Nilai 10 bila mencapai angka 100%
Konversi dengan Menggunakan Mean dan Standar Deviasi
Cara ini lebih akurat karena sudah mempertimbangkan tingkat variansi hasil belajar, sehingga nilai akhir sangat ditentukan oleh kelompoknya. Bila standar deviasinya kecil maka interval nilainya juga kecil. Sebaliknya bila standar deviasinya besar, maka interval nilainya juga besar. Konversi cara ini biasanya dilakukan untuk penilaian standar 10 dan standar 4 atau standar huruf.
Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 10 adalah sebagai berikut:
M + 2,25 (SD) = 10
M + 1,75 (SD) = 9
M + 1,25 (SD) = 8
M + 0,75 (SD) = 7
M + 0,25 (SD) = 6
M - 0,25 (SD) = 5
M - 0,75 (SD) = 4
M - 1,25 (SD) = 3
M - 1,75 (SD) = 2
M - 0,25 (SD) = 1

Catatan : M = Mean atau nilai rata-rata
SD = Standar Deviasi

Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 4 atau standar huruf adalah sebagai berikut:

E. Penetapan Nilai Akhir Semester
Penetapan nilai akhir semester biasanya berdasarkan total nilai mandiri, terstruktur, mid semester dan semester. Setelah diperoleh totalnya lalu di konversi menjadi huruf. Persoalan biasanya timbul saat menetapkan interval nilai A,B, C dan D. Untuk menetapkan interval seharusnya dimulai dari batas kelulusan.
Misalnya batas kelulusan adalah 60. lebih dari atau sama dengan 60 dinyatakan lulus. Kurang dari 60 tidak lulus. Maka perhitungan intervalnya adalah sebagai berikut.
1. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. R = H – L = 100 – 60 = 40
2. Tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal C. nilai yang dinyatakan lulus adalah A, B, C. Bararti banyak nya interval adalah 3.
3. Menentukan rentang interval.



4. Membuat interval nilai
Jika kita menginginkan nilai plus dan minus diperhitungkan maka proses penetapan intervalnya sebagai berikut:
1. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. R = H – L = 100 – 60 = 40
2. Tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal -C. nilai yang dinyatakan lulus adalah A+, A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-. Bararti banyak nya interval adalah .
3. Menentukan rentang interval.
4. Membuat interval nilai



Dari dua contoh di atas menunjukkan bahwa semakin banyak interval yang digunakan (menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin halus. Sebaliknya semakin sedikit interval yang digunakan (tidak menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin kasar.F. Penutup
Demikianlah uraian ringkas tentang pengolahan nilai hasil belajar. Apa yang sudah dipaparkan adalah menurut konsep dan teori evaluasi pendidikan sepanjang yang penulis ketahui. Masih ada hal-hal lain yang seharusnya dimasukkan dalam tulisan ini antara lain bagaimana mengolah nilai yang menggunakan non tes, uji kurva normal, Z skor dan T skor, mengubah data ordinal menjadi data interval dll. Namun karena keterbatasan waktu hanya ini yang bisa disajikan. Kalau ada kelemahan dan kesalahan mohon kritik dan saran yang membangun. Mudah-mudahan tulisan kecil ini bermanfaat bagi peserta workshop evaluasi pembelajaran.


KARYA BUKU

DAPATKAN BUKU-BUKU KARYA HARTONO
Di Toko Buku Terdekat atau di Toko Buku ZANAFA
Jl. HR. Subrantas Komplek Metropolitan City (MTC)/
Giant Blok A 39-40  Tampan Pekanbaru Riau
Telp. 0761-589935 Fax. 0761-589936


 STATISTIK UNTUK PENELITIAN
Isi buku ini:
Kata Pengantar
Kata Pengantar Cetakan ke 4
Daftar Isi
Daftar Lampiran

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Pengertian Statistik
B. Ruang Lingkup Statistik
C. Data Statistik

BAB 2 PENYAJIAN DATA
A. Tabel
1. Tabel biasa
2. Tabel distribusi frekuensi
3. Tabel distrubusi frekuensi kumulatif
4. Tabel distribusi frekuensi relatif
B. Grafik atau Diagram
1. Diagram batang
2. Diagram garis
3. Diagram lingkaran atau diagram pastel
4. Diagram lambang
5. Diagram pencar

BAB 3 UKURAN TENDENSI SENTRAL
A. Mean
1. Pengertian mean
2. Cara mencari mean
3. Penggunaan mean
B. Median
1. Mencari median data tunggal
2. Mencari median data kelompok
3. Penggunaan median
C. Modus
1. Mencari modus data tunggal
2. Mencari modus data kelompok
3. Penggunaan modus

BAB 4 UKURAN PENYEBARAN DATA
A. Range
B. Deviasi
1. Mean deviasi
2. Standar deviasi
C. Mencari Standar Deviasi dengan Kalkulator

BAB 5 KORELASI BIVARIAT
A. Pengertian Korelasi
B. Koefisien Korelasi
C. Tehnik Perhitungan Korelasi
D. Korelasi Product Moment
E. Korelasi Tata Jenjang
F. Korelasi Phi
G. Korelasi Koefisien Kontingensi
H. Korelasi Point Biserial
I. Korelasi Serial

BAB 6 KORELASI PARSIAL
A. Pengertian Korelasi Parsial
B. Rumus-Rumus Korelasi Parsial
C. Penggunaan Korelasi Parsial

BAB 7 ANALISIS REGRESI
A. Analisis Regresi Linier Sederhana
1. Metode tangan bebas
2. Metode kuadrat terkecil
B. Analisis Regresi Ganda
C. Analisis Regresi Linier dan Korelasi dengan menggunakan Kalkulator

BAB 8 KOMPARASI BIVARIAT
A. TES "t" (Student t)
1. Tes “t” untuk sampel-sampel yang berkorelasi
a. tes “t” untuk sampel kecil
b. tes “t” untuk sampel besar
2. Tes “t” untuk sampel-sampel yang tidak berkorelasi
a. tes “t” untuk sampel kecil
b. tes “t” untuk sampel besar
B. Chi Kuadrat
1. Chi kuadrat untuk varibal tunggal
2. Chi kuadrat untuk tabel 2x2
3. Chi kuadrat dengan koreksi Yates
4. Chi kuadrat untuk tabel yang baris dan kolomnya lebih dari dua kategori

BAB 9 ANOVA (ANALYSIS OF VARIANCES)
A. Anova Satu Arah (one way anova)
B. Anova Dua Arah (two factorial design)

BAB 10 ANACOVA (ANALYSIS OF COVARIANCES)
A. ANACOVA (Analysis of Covariances) Pre-tes dan Post-tes
B. ANACOVA (Analysis of Covariance) dengan Kontrol Variabel lain

Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran


STRATEGI PEMBELAJARAN
Isi buku ini membahas tentang bagaimana merencanakan sebuah strategi pembelajaran, faktor yang harus dipertimbangkan dan beberapa contoh strategi pembelajaran dengan berbagai macam pendekatan.















SPSS Analisis Data Penelitian dan Statistik dengan Program Komputer.
Buku ini membahas tentang berbagai macam analisis data dengan menggunakan program SPSS 10. Data yang dianalisis adalah contoh kasus yang ada dalam buku STATISTIK UNTUK PENELITIAN. Hasil analisis dengan SPSS versi 10 sama persis dengan perhitungan manual pada buku Statistik untuk Penelitian..











Buku STATISTIK UNTUK PENELITIAN
Membahas tentang:
Pengantar Statistik
Dasar-Dasar Statistik
Statistik Deskriptif
Korelasi Bivariate
Komparatif Bivariate




ANALISIS ITEM INSTRUMEN Membahas:
BAB 1 PENGANTAR
BAB 2 MEMBUAT FILE DATA ANALISIS ITEMAN
BAB 3 MENJALANKAN PROGRAM ITEMAN
BAB 4 INTERPRETASI OUTPUT ITEMAN
BAB 5 KORELASI POINT BISERIAL
BAB 6 INSTRUMEN PENELITIAN
BAB 7 VALIDITAS INSTRUMEN PENELITIAN
BAB 8 RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN
BAB 9 MENGUBAH DATA ORDINAL MENJADI DATA INTERVAL
BAB 10 LATIHAN
METODOLOGI PENELITIAN
Membahas:
Modul 1
PENDAHULUAN
A. Pengertian Penelitian 2
B. Berfikir dan bersikap ilmiah 3
C. Urgensi metodologi penelitian dalam pengembangan ilmu pengetahuan 7
D. Jenis Penelitian Kependidikan. 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian Kependi-dikan 12
F. Tes Formatif 17
Modul 2
PERENCANAAN PENELITIAN
A. Memilih Permasalahan 20
B. Studi Pendahuluan 23
C. Merumuskan Masalah 24
D. Identifikasi Masalah 25
E. Batasan Masalah 25
F. Merumuskan Asumsi 25
G. Merumuskan Hipotesis 27
H. Memilih Jenis Pendekatan 28
I. Menentukan Variabel 30
J. Menentukan Sumber Data 35
Modul 3
POPULASI DAN SAMPEL
A. Pengertian 46
B. Teknik Sampling 47
C. Ukuran Sampel 52
Modul 4
INSTRUMEN PENELITIAN
A. Pengertian Instrumen 58
B. Validitas Instrumen 64
C. Teknik Analisis Validitas Instrumen 67
D. Reliabilitas Instrumen 80
1. Analisis Reliabilitas dengan Alpha 80
2. Analisis Reliabilitas dengan Metode
Belah Dua (Split Half Method) 89
Modul 5
ANALISIS DATA PENELITIAN
A. Persiapan 104
B. Tabulasi 105
C. Analisis Data Penelitian 105
1. Analisis Deskriptif 106
2. Analisis Komparasi 107
3. Analisis Korelasi 108
D. Menarik Kesimpulan 110
Modul 6
LAPORAN PENELITIAN
A. Model format laporan penelitian menurut
Borg dan Gall 117
B. Format laporan penelitian menurut
pedoman akademik UIN Sultan Syarif Kasim Riau 118
C. Penjelasan Komponen Laporan Penelitian 119
Modul 7
LAPORAN PENELITIAN
A. Teknik Layout Kertas dan Margin 126
B. Format Penulisan Bab dan Sub bab serta Format Penomoran 127
C. Kutipan 130
D. Teknik Penulisan Daftar Pustaka 136
Daftar Pustaka 139
Lampiran 143



ANALISIS BUTIR TES Membahas tentang analisis butir tes dengan menggunakan komputer. Program yang digunakan adalah Microcat. Program komputer yang dirancang untuk menganalisis kualitas tes hasil belajar, antara lain menganalisis tinngkat kesukaran tes, indek diskriminasi (daya beda),  efektifitas distraktor, reliabilitas tes, standar deviasi dll.



SPSS 16 Analisis data Penelitian dan Statistika
Kata Pengantar  - v
Daftar Isi - vii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Sekilas tentang Program SPSS -1
B. Persiapan Menggunakan Program SPSS 16.0 - 2
BAB 2 ENTRI DATA SPSS 16.0
A. Membuka Program SPSS 16.0 - 7
B. Menu pada SPSS 16.0  -  9
C. Entri Data ke dalam Program SPSS 16.0  - 10
BAB 3 ANALISIS DESKRIPTIF
A. Pengertian Analisis Deskriptif - 24
B. Analisis Deskriptif dengan SPSS 16.0  -  25
BAB 4 ANALISIS KORELASI
A. Pengertian Korelasi  -  45
B. Analisis Korelasi Parametrik dengan SPSS 16.0 - 46
1. Analisis Korelasi Bivariate - 46
2. Analisis Korelasi Multi Variate  -  56
C. Analisis Korelasi Non Parametrik dengan
SPSS 16.0 - 62
1. Korelasi Tata Jenjang  -  62
2. Korelasi Koefisien Kontingensi  - 68
BAB 5 KORELASI PARSIAL
A. Pengertian KorelasiParsial  - 74
B. Rumus-Rumus Korelasi Parsial  - 74
C. Analisis Korelasi Parsial dengan SPSS 16.0  - 75
BAB 6 REGRESI
A. Pengertian Regresi Linear Sederhana - 84
B. Analisis Regresi Linear Sederhana dengan
Program SPSS 16.0 -  86
C. Regresi Ganda - 101
D. Analisis Regresi Ganda dengan Program
SPSS 16 - 102
BAB 7 ANALISIS KOMPARASI
A. Chi Kuadrat  - 116
1. Chi Kuadrat untuk Variabel Tunggal   -  117
2. Chi Kuadrat untuk Tabel 2 X 2   -  124
3. Chi Kuadrat dengan Koreksi Yates - 129
4. Chi Kuadrat untuk Tabel yang Baris dan
Kolomnya leh dari dua Kategori  -  132
B. Tes "t" (Student t)  -  136
1. Tes “t” untuk sampel-sampel yang
Berkorelasi  -  137
2. Tes “t” untuk sampel-sampel yang tidak
berkorelasi - 143
BAB 8 A N O V A
A. Anova Satu Arah - 151
B. Anova Dua Arah - 162
Daftar Pustaka -  179
Lampiran -  184


SILABUS

S I L A B U S
Matakuliah Metodologi Penelitian

Dosen Pengasuh Drs. Hartono, M.Pd



MATA KULIAH : METODOLOGI PENELITIAN
KODE : DISESUAIKAN DENGAN JURUSAN
SKS : 3 SKS
JURUSAN : PAI/PBA/PBI/KI/PMT
FAKULTAS : TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUSKA RIAU




A. DESKRIPSI
Mata kuliah metodologi penelitian ini merupakan perpaduan antara teori dan terapan, di mana mahasiswa selain diberikan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, mulai dari penjelajahan masalah, pelaksanaan penelitian sampai pada pengolahan dan pelaporannya. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah pokok bagi semua jurusan sebagai pengetahuan dasar untuk melakukan penelitian, terutama membuat Skripsi.

B. TUJUAN
Tujuan matakuliah ini diberikan pada mahasiswa adalah:
1. Membentuk cara berfikir ilmiah, dimana mahasiswa mampu memahami suatu fenomena dan bertindak dengan pendekatan ilmiah baik secara teoritis maupun praktis.
2. Agar mahasiswa mampu memahami prosedur dan tatacara melaksanakan penelitian tentang fenomena agama dan pendidikan dalam kehidupan sosial, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dan dapat memanfaatkannya untuk melakukan penelitian ilmiah dalam rangka studi ilmu-ilmu keislaman dan pendidikan, sehingga menambah khasanah perbendaharaan ilmu-ilmu keislaman dan pendidikan dalam penyusunan laporan penelitian (Skripsi).

C. MATERI
1. Pengertian metodologi penelitian, berfikir dan bersikap ilmiah serta urgensi metodologi
penelitian dalam pengembangan IPTEK.
2. Jenis-jenis penelitian kependidikan
3. Konsep, proposisi, variabel, teori, asumsi dan hipotesis.
4. Masalah penelitian
(a. identifikasi masalah, b. batasan masalah, c. rumusan masalah)
5. Tujuan dan kegunaan penelitian
(a. tujuan penelitian, b. kegunaan penelitian)
6. Populasi dan sampel
(a. pengertian populasi, b. pengertian sampel, c. tehnik sampling, d. ukuran sampel, e. error sampling).
7. Jenis data dan sumber data
(a. jenis-jenis data penelitian, b. sumber data)
8. Instrumen penelitian
(a. tes, b. angket, c. observasi, d. wawancara, e. dokumentasi, f. skala bertingkat g. try out instrumen penelitian)
9. Teknik analisis data penelitian
(a. analisis deskriptif, b. analisis korelasional, c. analisis komparasional, d. analisis kualitatif)
10. Etika penelitian
11. Membuat proposal penelitian
12. Membuat laporan penelitian

D. BUKU SUMBER
1. Ary Donald, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Arief Furchan), Surabaya, Usaha Nasional, 1982
2. Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta kombinasinya dalam penelitian psikologi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004
3. Best, Jhon W, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982
4. Consuelo G. Sevilla dkk, Pengantar Metode Penelitian, Jakarta, Universitas Indonesia, 1993
5. Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama, Bandung, Pustaka Setia, 2000
6. Elazar J. Pedhazur, Multiple Regression in Behavioral Research, New York, Holt, Renehart and Winston, 1982
7. Hadari Nawawi & Martini Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1995
8. Hartono, SPSS Analisis Data Statistika dan Penelitian dengan Komputer, Yogyakarta, Aditya Media, 2005
9. Hartono, Statistik untuk Penelitian, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004
10. Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996
11. Ida Bagoes Mantra, Filsafat Penelitian & Metode Penelitian Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004
12. Imam Suprayogo & Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama, Bandung, Rosda Karya, 2003
13. Isaac, Stephen & Michael, Willian B, Handbook in Research and Evaluation for Education
and the Behavioral Sciences, California, Edits, 1982
14. J. Supranto, Teknik Sampling untuk Survei dan Eksprimen, Jakarta, Rineka Cipta, 1992
15. Julia Brannen, Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002
16. Keppel, Geoffrey, Design and Analysis a Researcher’s Handbook, New Jersey, Prentice-Hall Inc, 1982
17. Kleinbaum, David G., & Lawrence L. Kupper, Applied Regression Analysis and Other Multivariable Methods, (Borton, Duxbury Press, 1986
18. Laxy J. Moleong, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995.
19. Masri Singarimbun & Sofyan Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta, LP3ES, 1984
20. Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi, Bandung, Angkasa, 1982.
21. Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung, Sinar Baru, 1989. 22. Noeng Muhadjir, Metologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin, 1992
23. Pedhazur, Elazar J., Multiple Regression in Behavioral Research, New York, Holt, Rinehart and Winston, 1982
24. Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Bandung, Alfabeta, 2003
25. Setiawan Djuharie, Pedoman Penulisan Skripsi Tesis Disertasi, Bandung, Yrama Widya, 2001
26. Sudjana, Desain dan Analisis eksperimen, Bandung, Tarsito, 1988
27. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, Rineka Cipta, 1992
28. Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian, jilid 1 dan 2, Yogyakarta, Andi Offset, 1991
29. William A. Mehrens & Irvin J. Lehmann, Measurement and Evaluation in Education and
psychology, New York, Holt, Renehart and Winston, 1973

Dosen Pengasuh
MK. Metodologi Penelitian

Drs. Hartono, M.Pd
NIP. 19640301 199203 1 007

TUGAS KULIAH

MATAKULIAH METODOLOGI PENELITIAN
TUGAS TERSTRUKTUR
Mahasiswa harus membuat penelitian kecil (mini proyek) pada subjek dan objek yang terbatas. hasilnya dilaporkan pada akhir semester dengan format laporan penelitian yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Membuat proposal penelitian sebagai rencana penelitian untuk skripsi, tema dan masalah yang dipilih merupakan tema dan masalah rencana penelitian skripsi.
TUGAS MANDIRI
Tugas mandiri diserahkan kepada mahasiswa untuk memilih, volume kegiatan mandiri sepenuhnya diserahkan mahasiswa. Setiap kegiatan mandiri dilaporkan kepada Dosen pengasuh dalam bentuk laporan. Jenis kegiatan mandiri antara lain: membuat makalah yang berhubungan dengan matakuliah Metopel/Metpen/MP, membuat resume buku, menterjemahkan, Analisis kritis terhadap materi atau permasalahan penelitian dll.

MATAKULIAH STATISTIK
TUGAS MANDIRI
Tugas mandiri mengerjakan latihan-latihan setiap pokok bahasan dalam buku latihan khusus, buku tersebut sebagai dokumen pengambilan nilai mahasiswa.
TUGAS TERSTRUKTUR
Tugas tersetruktur membuat makalah/paper tentang Decil, Kuarti dan Percentil. Terdiri dari pengertian, tujuan, fungsi, kelebihan dan kekurangannya, contoh penggunaannya dan contoh perhitungannya dll.
MATAKULIAH MICRO TEACHING
TUGAS MANDIRI
Mahasiswa akan melakukan observasi selama micro teaching berlangsung dan harus melaporkan hasil observasinya, hasil observasi terdiri dari identitas yang diobservasi, unsur-unsur ketrampilan yang dilakukan oleh praktikan, kelebihannya apa, kelemahannya dimana, dan apa rekomendasi anda sebagai perbaikan pembelajaran pada praktikan.TUGAS TERSTRUKTUR
Membuat makalah/paper yang mengambil tema berhubungan Micro teaching.

Catatan:
Tugas mandiri diserahkan pada pertengahan dan akhir semester.
Tugas terstruktur diserahkan pada akhir semester menjelang ujian semester.